RADAR SURABAYA BISNIS – Pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2025 sudah diumumkan.
Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,11 persen.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai pemerintah memiliki sejumlah peluang untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi triwulan I/2026.
Namun, hal yang justru yang harus menjadi perhatian pelaku usaha adalah fase setelah triwulan I/2026, saat dorongan musiman tidak lagi menjadi penopang utama.
Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menekankan pentingnya pemberdayaan kembali (re-empowerment) kelas menengah sebagai jangkar utama pertumbuhan konsumsi domestik.
Pelaku usaha menilai pertumbuhan di kisaran 5,1 persen–5,2 persen mencerminkan stabilitas tetapi masih tergolong di posisi stabil tetapi tidak optimal.
“Penguatan kepercayaan dan daya beli kelas menengah menjadi kunci untuk menjaga momentum ekonomi tetap berkelanjutan, terutama melalui stabilitas lapangan kerja yang produktif dan berkelanjutan,” ucap Shinta dikutip, Minggu (8/2).
Meski pertumbuhan ekonomi triwulan IV/2025 mencapai 5,39 persen, tetapi secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi selama tahun 2025 hanya mencapai 5,11 persen.
Angka ini di bawah target pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah yang sebesar 5,2 persen.
Shinta mengatakan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas dan berdaya ungkit tinggi, maka dunia usaha membutuhkan perbaikan iklim usaha secara konsisten.
Dalam hal ini dibutuhkan upaya konkrit dalam memangkas high-cost economy seperti biaya energi, logistik, dan pinjaman.
Langkah lebih lanjut adalah menjalankan agenda deregulasi secara berkelanjutan.
“Tanpa perbaikan di sisi biaya dan regulasi, ruang bagi sektor swasta untuk memperluas kapasitas dan menyerap tenaga kerja akan tetap terbatas,” terang Shinta.
Idealnya perekonomian tidak hanya harus didorong tinggi tetapi juga harus berkualitas.
Berkaitan dengan hal tersebut maka pemerintah perlu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang produktif, inklusif, dan berorientasi jangka panjang.
“Untuk mengubah stabilitas menjadi akselerasi dibutuhkan kolaborasi erat diantara pemerintah dan dunia usaha, agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi benar-benar scalable(dapat ditingkatkan) dan mampu memperkuat fondasi ekonomi nasional,” tutur Shinta.
Sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan dengan kondisi perekonomian yang terjadi pada tahun 2025, pemerintah optimistis ekonomi di 2026 tumbuh 5,4 persen.
Konsumsi rumah tangga yang kuat, belanja berkualitas, kinerja eksternal yang kompetitif, serta investasi lebih tinggi dengan kontribusi swasta lebih besar menjadi basis pertumbuhan ekonomi.
Dari kondisi tersebut, pemerintah terus mencermati dinamika ke depan dan memastikan kebijakan fiskal tetap dikelola secara hati-hati dan kredibel.
Kebijakan fiskal terus diselaraskan dengan kebijakan sektor keuangan dan meningkatkan peran swasta. (ves/opi)
Editor : Nofilawati Anisa