RADAR SURABAYA BISNIS - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,11 persen (year-on-year/yoy) sepanjang 2025 dengan produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp 13.580,5 triliun.
Capaian itu naik dari Rp 12.920,5 triliun pada 2024. "Sementara, ekonomi Indonesia berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku sepanjang 2025 mencapai Rp 23.821,1 triliun," kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Amalia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2025 masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB).
Dari sisi pengeluaran, kontribusi kedua komponen itu secara akumulatif mencapai 82,65 persen.
“Hal ini terutama didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat yang menyebabkan kenaikan pengeluaran untuk makan dan minum, transportasi dan komunikasi, serta penambahan barang modal berupa mesin dan perlengkapan,” ujarnya.
Data BPS menyebutkan, PDB ADHK tercatat Rp 13.580,5 triliun, sementara PDB ADHB tercatat Rp 23.821,1 triliun.
Amalia merinci, konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 2,62 persen. Secara tahunan, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,98 persen.
“Pertumbuhan tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran restoran dan hotel yang mencapai 6,38 persen, seiring meningkatnya kegiatan wisata selama masa liburan akhir tahun,” jelasnya.
PMTB menjadi kontributor kedua terbesar dengan sumbangan 1,58 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Secara keseluruhan, PMTB tumbuh 5,09 persen sepanjang 2025.
“Pertumbuhan tertinggi terjadi pada subkomponen mesin dan perlengkapan yang melonjak 17,99 persen, didorong oleh peningkatan impor barang modal jenis mesin serta meningkatnya produksi industri mesin dalam negeri,” urai Amalia.
Sementara itu, net ekspor memberikan kontribusi sebesar 0,74 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Ekspor Indonesia tumbuh 7,03 persen sepanjang 2025, didorong oleh peningkatan nilai ekspor barang nonmigas serta ekspor jasa.
“Sejumlah komoditas nonmigas mencatat kenaikan nilai dan volume ekspor, antara lain lemak dan minyak hewani atau nabati, besi dan baja, mesin dan peralatan listrik, serta kendaraan dan bagiannya,” paparnya.
Berdasarkan distribusinya ke total PDB, menurut pengeluaran, konsumsi rumah tangga memiliki porsi terbesar yakni 53,88 persen dari total PDB.
PMTB menyumbang 28,77 persen terhadap total PDB, sedangkan ekspor berkontribusi sebesar 22,85 persen.
“Selanjutnya, dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi dengan kontribusi 1,07 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Sektor ini tumbuh 5,30 persen,” jelasnya.
Sementara, sektor perdagangan tumbuh 5,49 persen dengan kontribusi pertumbuhan 0,72 persen.
Sektor pertanian mencatat pertumbuhan 5,33 persen, berkontribusi 0,60 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Pertumbuhan ini didorong oleh membaiknya industri penghasil komoditas ekspor seperti CPO dan logam dasar, serta meningkatnya produksi tanaman pangan, peternakan, dan perikanan,” ujar Amalia.
Adapun untuk kuartal IV/2025, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,39 persen (yoy) dan 0,86 persen secara kuartalan (qtq).
Secara regional, BPS mencatat wilayah Jawa dan Sulawesi mencatat pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional sepanjang 2025. (ara/opi)
Editor : Nofilawati Anisa