Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Tembus Pasar Hollywood, Industri Bulu Mata RI Kini Masuk Daftar Penerima Kredit KIPK 2026

Hany Akasah • Selasa, 27 Januari 2026 | 13:13 WIB

ILUSTRASI: Industri bulu mata palsu Indonesia kini masuk dalam daftar prioritas penerima Kredit Industri Padat Karya (KIPK) 2026 untuk mendukung modernisasi mesin dan peningkatan ekspor.
ILUSTRASI: Industri bulu mata palsu Indonesia kini masuk dalam daftar prioritas penerima Kredit Industri Padat Karya (KIPK) 2026 untuk mendukung modernisasi mesin dan peningkatan ekspor.

RADAR SURABAYA BISNIS – Industri kecantikan Indonesia, khususnya subsektor bulu mata palsu, mendapat angin segar dari pemerintah. 

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) resmi memasukkan industri bulu mata dan rambut palsu ke dalam daftar penerima program Kredit Industri Padat Karya (KIPK) untuk tahun anggaran 2026.

Langkah ini diambil sebagai bentuk apresiasi sekaligus dukungan strategis terhadap sektor yang selama ini memiliki performa ekspor gemilang namun masih minim sentuhan modernisasi.

Perluasan Cakupan Sektor Padat Karya

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyatakan bahwa pemerintah memperluas jangkauan KIPK dari yang semula didominasi sektor tekstil, pakaian jadi, dan furnitur. Kini, cakupannya mencakup 157 Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI).

"Cakupan sektor diperluas subsektornya, seperti industri pembuat rambut dan bulu mata palsu, kerajinan sekretom atau obat herbal, serta minyak atsiri yang pada dasarnya bersifat padat karya," ujar Agus dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI di Jakarta, Senin (26/1/2026).

Menurut Agus, pemilihan subsektor ini didasarkan pada nilai tambah ekonomi dan kinerja ekspor yang nyata. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memberikan insentif kepada sektor yang tidak memiliki "asal-usul" kontribusi ekonomi yang jelas.

Mendorong Modernisasi: Dari Manual ke Mesin

Sudah memiliki data saing tinggi di pasar dunia, industri bulu mata sendiri masih mengalami tantangan besar pada pasar dalam negeri, yakni tantangan pada ketergantungan proses produksi manual. 

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Dirjen IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menjelaskan bahwa program KIPK diharapkan dapat membantu pelaku industri melakukan pengadaan mesin produksi.

"Harapan kita dengan adanya program ini, industri bisa membeli mesin untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing produk kita di luar negeri," kata Reni.

Baca Juga: Kereta Cepat Surabaya di Surabaya Jadi Prioritis, Negara Bakal Utang Whoosh?

Ia juga menyoroti bahwa negara pesaing seringkali memberikan insentif besar bagi produk ekspor mereka, sehingga dukungan pembiayaan melalui KIPK menjadi krusial agar produk Indonesia tetap kompetitif.

Fakta Menarik: Pilihan Utama Artis Hollywood

Bukan rahasia lagi jika kualitas bulu mata palsu buatan Indonesia diakui dunia. Reni mengungkapkan data menarik bahwa hampir 90% produk bulu mata RI diekspor ke Amerika Serikat (AS).

"Umumnya sih, industri bulu mata memang ekspornya hampir 90%. Kebanyakan ke Amerika Serikat. Nah, artis-artis Hollywood itu kan pakainya itu dari Indonesia sebenarnya," ungkapnya.

Editor : Hany Akasah
#Kredit Industri Padat Karya #hollywood #ekspor bulu mata palsu #kemenperin #Reni Yanita #Agus G Kartasasmita