RADAR SURABAYA BISNIS - Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan Japan External Trade Organization (Jetro) menyelenggarakan penjajakan bisnis (business matching) di Jakarta.
Kegiatan ini mempertemukan 30 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia yang memproduksi produk fast-moving consumer goods (FMCG) dengan empat perusahaan ritel besar asal Jepang.
Para pelaku UMKM yang berpartisipasi mencakup berbagai sector.
Meliputi furnitur, peralatan rumah tangga, kosmetik dan perawatan kulit, kebutuhan hewan peliharaan, serta makanan dan minuman.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi mengatakan, business matching tersebut menjadi inisiatif pemerintah Indonesia memperluas akses pasar ekspor produk FMCG Indonesia ke Negeri Sakura.
Upaya ini diperlukan mengingat Jepang terkenal memiliki standar kualitas dan keamanan produk yang tinggi.
“Kami mempertemukan para pemasok dan produsen dari Indonesia dengan ritel dan mitra dari Jepang. Business matching ini menjadi sarana penting untuk menyelaraskan standar pasar sehingga produk Indonesia dapat memenuhi persyaratan ketat dan kebutuhan pasar Jepang,” ujar Puntodewi dikutip, Senin (26/1/2026).
Puntodewi menilai, Indonesia dan Jepang memiliki peluang besar untuk mengembangkan kerja sama di sektor-sektor seperti furnitur, home and living, wellness, perawatan tubuh, serta produk kecantikan.
Sektor-sektor tersebut berpotensi tumbuh bersama dan menjadi kekuatan baru dalam rantai pasok global.
“Selain sektor otomotif, kami melihat masih banyak potensi di sektor seperti furnitur, home living, wellness, perawatan tubuh, dan kecantikan yang bisa kita kembangkan. Kami optimistis sektor FMCG dan produk kreatif Indonesia dapat menjadi katalis untuk rebound di 2026,” tutur Puntodewi.
Puntodewi pun berharap, business matching menghasilkan kesepakatan yang dapat berkembang menjadi kerja sama berkelanjutan.
“Kami sangat berharap business matching dapat menjadi kegiatan yang berlangsung sangat panjang dan berkelanjutan,” tambah Puntodewi.
Sementara itu, Presiden Direktur Jetro Jakarta Shinji Hirai mengungkapkan, Pemerintah Indonesia memiliki komitmen kuat untuk mendorong hilirisasi serta peningkatan nilai tambah di sektor manufaktur dan ritel.
Sejalan dengan itu, peritel dan perusahaan perdagangan Jepang juga sedang mencari produk berkualitas tinggi untuk dipasarkan maupun ditampilkan di gerai.
“Kegiatan ini dapat menjadi referensi bagi pemasok Indonesia dalam mengembangkan produk dan memahami kebutuhan pasar Jepang. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat membantu perusahaan-perusahaan Jepang dalam menemukan pemasok baru dari Indonesia,” kata Hirai.
Sementara itu, perwakilan dari Sagara Group, Ferdi, yang merupakan salah satu UMKM peserta business matching mengapresiasi Kemendag dan Jetro atas fasilitasi yang diberikan.
Ia berharap, kegiatan ini dapat mendorong produk UMKM lokal untuk menembus pasar internasional.
“Terima kasih kami telah diberikan kesempatan untuk bisa melakukan business matching dengan Jetro. Kami berharap, fasilitasi ini dapat membantu mengangkat produk UMKM khas lokal agar mampu menembus pasar global. Kami juga berharap semakin banyak pelaku usaha lain yang dapat mengikuti dan memanfaatkan peluang ini,” ujar Ferdi.
Selain itu, perwakilan dari Jinjit Pottery, Antin Sambodo, menyampaikan antusiasmenya dalam mengikuti kegiatan business matching tersebut.
Ia berharap, fasilitasi yang diberikan ini dapat membantu produknya memenuhi kebutuhan dan preferensi pasar Jepang, sekaligus memperbesar peluang terjalinnya kerja sama bisnis yang berkelanjutan.
“Saya berharap produk kami dapat dipasarkan di Jepang dan memenuhi kebutuhan pasar setempat. Kami juga berharap kerja sama dengan mitra Jepang dapat terus berlanjut sehingga produk kami hadir berkelanjutan di pasar Jepang,” tutupnya. (ara/opi)
Kinerja Perdagangan RI ke Jepang
*Ekspor nonmigas Jan-Nov. 2025 USD 14,08 miliar
*Ekspor nonmigas Jan-Nov. 2024 USD 17,15 miliar
*Turun hingga 17,91 persen
*Tren perdagangan terus tumbuh
*Total perdagangan tumbuh 9,47 persen
*Total perdagangan Jan-Nov. 2025 USD 29,29 miliar
*Turun 10 persen dibanding Jan-Nov. 2024 USD
*Tetap catat suprlus USD 2,64 miliar
Sumber: Diolah
Editor : Nofilawati Anisa