Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Utilisasi Industri Alas Kaki Konsisten di Atas 80 Persen

Nofilawati Anisa • Kamis, 22 Januari 2026 | 21:20 WIB

 

SERAP TENAGA KERTJA: Industri alas kaki menjadi salah satu pilar utama sektor padat karya nasional.
SERAP TENAGA KERTJA: Industri alas kaki menjadi salah satu pilar utama sektor padat karya nasional.

RADAR SURABAYA BISNIS - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, industri alas kaki nasional menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global.

“Pada tahun 2024, nilai ekspor industri alas kaki tumbuh signifikan sebesar 13,13 persen dan mencapai USD 7,28 miliar. Capaian ini mencerminkan daya saing yang kuat dan tetap terjaga di pasar global,” kata Airlangga dikutip, Kamis (22/1/2026).

Menurutnya, industri alas kaki menjadi salah satu pilar utama sektor padat karya nasional.

Sektor ini berperan vital sebagai penyangga perekonomian dan penyerap tenaga kerja dalam skala besar.

“Sektor ini berkontribusi sebesar 1,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan pada kuartal III/2025 dan menyerap sekitar 921 ribu tenaga kerja per Februari 2025,” lanjutnya.

Selain ekspor, Airlangga menyebut kepercayaan investor terhadap industri alas kaki nasional juga terus meningkat.

Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada 2024 tercatat mencapai USD 859 juta.

Sementara, hingga semester I/2025 telah mencapai USD 803 juta.

“Realisasi penanaman modal ini naik hingga 93 persen hanya dalam enam bulan,” ungkapnya.

Airlangga memandang tingginya minat investasi tersebut sejalan dengan tingkat utilisasi industri yang konsisten berada di atas 80 persen.

Mencerminkan kapasitas produksi yang optimal serta prospek usaha yang positif.

“Namun demikian, kita perlu tetap waspada terhadap berbagai tantangan termasuk diberlakukanya kebijakan tarif resiprokal sebesar 19 persen di pasar Amerika Serikat. Oleh karena itu, Indonesia berharap dengan implementasi IEU-CEPA, pasar ini bisa terus dibuka. Dan tentunya di tahun ini kita persiapkan agar implementasi IEU-CEPA bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin,” ujarnya.

Adapun untuk menjaga resiliensi industri alas kaki, pemerintah telah mengimplementasikan sejumlah instrumen kebijakan konkret.

Kebijakan tersebut antara lain penguatan pasar dalam negeri melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 23 Tahun 2025 terkait pengaturan impor barang konsumsi, pemberian stimulus fiskal bagi tenaga kerja melalui kebijakan PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah berdasarkan PMK Nomor 10 Tahun 2025.

Selain itu, pemerintah menyediakan Kredit Investasi Padat Karya melalui Permenko Nomor 4 Tahun 2025, serta fasilitasi ekspor melalui optimalisasi kawasan berikat dan penyederhanaan prosedur ekspor.

Pemerintah juga berkomitmen menciptakan ekosistem usaha yang kondusif melalui sinergi dengan Aprisindo, meliputi reformasi regulasi ketenagakerjaan dan penguatan kualitas sumber daya manusia industri, simplifikasi perizinan dan standarisasi biaya K3 berbasis risiko, optimalisasi logistik dan percepatan arus bahan baku, akselerasi penerapan ekonomi sirkular, serta penguatan diplomasi perdagangan. (nis/opi)

Industri Alas Kaki Indonesia

*Ekspor 2024 senilai USD 7,28 miliar
*Naik 13,13 persen
*Kontribusi PDB 1,2 persen
*Serap 921.000 tenaga kerja
*Realisasi PMA di 2024 USD 859 juta
*Realisasi PMA semester I/2025 USD 803 juta
*Utilisasi konsisten di atas 80 persen

*Sinergi dengan Aprisindo:
1. Reformasi regulasi ketenagakerjaan
2. Penguatan kualitas sdm
3. Simplifikasi perizinan
4. Standarisasi biaya K3 berbasis risiko
5. Optimalisasi logistik
6. Percepatan arus bahan baku

Sumber: Diolah

 

Editor : Nofilawati Anisa
#Aprisindo #utilisasi #airlangga hartarto #ekspor #ekonomi global #Menteri Koordinator Bidang Perekonomian #industri alas kaki #Konsisten