RADAR SURABAYA BISNIS – Provinsi Jawa Timur (Jatim) memperkuat posisinya sebagai tulang punggung agribisnis nasional.
Berdasarkan data terbaru tahun 2025 yang dirilis Pemerintah Provinsi Jawa Timur, wilayah ini mencatatkan rekor sebagai produsen padi, beras, dan jagung terbesar di level nasional, sekaligus menjadi motor utama dalam mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia.
Pencapaian ini menjadi sinyal positif bagi pelaku industri pangan dan investor di sektor agrikultur, mengingat stabilitas pasokan bahan baku merupakan kunci utama dalam rantai pasok bisnis pangan nasional.
Sepanjang tahun 2025, Jawa Timur mencatatkan luas tanam padi mencapai 2.428.073 Hektare (Ha).
Angka ini menempatkan Jatim di posisi pertama, melampaui Provinsi Jawa Barat (2,15 juta Ha) dan Jawa Tengah (2,01 juta Ha).
Dari sisi produktivitas, Jatim mencatatkan angka yang signifikan. Luas panen padi kurang lebih sebesar 1,84 juta hektare, produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 10,56 juta ton dan produksi beras Jatim tahun 2025 jika dikonversikan diperkirakan sebesar 6,10 juta ton.
Yang menarik bagi pelaku pasar adalah pertumbuhan produksi sebesar 13,89% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini merupakan yang terbesar dalam kurun waktu 2020-2025, menunjukkan efektivitas intensifikasi pertanian dan kebijakan bantuan sarana produksi di wilayah tersebut.
Tidak hanya di sektor padi, Jawa Timur juga mendominasi pasar jagung nasional. Hal ini krusial bagi industri pakan ternak dan pengolahan pangan di Indonesia.
Pada tahun 2025, Jatim memproduksi sekitar 4,59 juta ton jagung pipilan kering (dengan kadar air 14%).
Angka ini terpaut cukup jauh dari pesaing terdekatnya, yakni Jawa Tengah dengan 2,73 juta ton dan Sumatera Utara dengan 1,31 juta ton.
Dominasi ini mempertegas peran Jatim sebagai penyuplai utama bahan baku industri hilir yang berbasis jagung, yang secara langsung berdampak pada stabilitas harga komoditas di tingkat pabrikan.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyatakan bahwa pencapaian di tahun 2025 ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang.
Bagi para analis ekonomi, surplus produksi di Jawa Timur memberikan ruang bagi pengembangan industri pengolahan (hilirisasi) pertanian.
Dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah, Jawa Timur memiliki daya tarik investasi yang tinggi untuk pembangunan pabrik penggilingan padi modern (RMU) maupun industri pengolahan jagung menjadi produk turunan lainnya.
Dengan tren positif ini, Jawa Timur tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga sebagai penyangga stabilitas ekonomi nasional melalui sektor agraria yang tangguh.
Editor : Hany Akasah