RADAR SURABAYA BISNIS - Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) mencatatkan total volume transaksi sebanyak 28.621 lot pada hari pertama perdagangan tahun 2026.
Transaksi tersebut terdiri dari transaksi multilateral sebanyak 3.778 lot, serta Transaksi Sistem Perdagangan Alternatif sebanyak 24.843 lot.
Direktur ICDX, Nursalam, mengatakan, transaksi pada hari pertama perdagangan tahun 2026 memberikan optimisme pihaknya untuk terus tumbuh ke depan.
"Salah satu indikasinya adalah volume perdagangan pada hari pertama ini melebihi angka rata-rata transaksi harian pada tahun 2025. Untuk tahun 2026 ini, kami menargetkan pertumbuhan sebesar 20 persen dibandingkan tahun 2025," ujar Nursalam, Rabu (7/1/2026).
Secara National Value, pada perdagangan hari pertama total mencapai Rp 130,3 triliun, yang terdiri dari Notional Value transaksi multilateral sebesar Rp 843,5 miliar dan Notional Value transaksi sistem perdagangan alternatif sebesar Rp 129,4 triliun.
Untuk transaksi multilateral, transaksi tertinggi ada di kontrak komoditas emas GOLDUDMic dengan volume 1.024 lot dan Notional Value sebesar Rp 74,6 miliar.
Sementara itu, untuk transaksi sistem perdagangan alternatif, transaksi tertinggi ada di kontrak mata uang XAUUSD14 dengan volume transaksi sebanyak 6.780 lot dan Notional value sebesar Rp 41,4 triliun.
Nursalam mengatakan, total transaksi ICDX pada hari pertama perdagangan tahun 2026 tersebut, melebihi rata-rata transaksi harian ICDX sepanjang 2025 dengan volume sebanyak 19.874 lot.
“Sepanjang tahun 2025, terdapat 260 hari transaksi dengan total transaksi mencapai 5.167.243 lot,” ujarnya.
Sebagai upaya mendorong pertumbuhan volume transaksi, Nursalam memastikan ICDX akan terus melakukan berbagai upaya inovasi berkelanjutan yang memberikan kemudahan serta pelayanan prima kepada masyarakat.
"Salah satu upaya kami adalah dengan mendorong transaksi multilateral. Selain itu, kami juga akan terus melakukan kegiatan literasi dan edukasi kepada masyarakat dengan mengajak atau melibatkan semua pemangku kepentingan, baik itu otoritas maupun para pelaku," ujar Nursalam. (ara/opi)
Editor : Nofilawati Anisa