Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Airlangga Hartarto Buka-bukaan soal Indonesia Buka Ekspor Mineral Kritis ke AS

Nofilawati Anisa • Senin, 29 Desember 2025 | 19:06 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto


RADAR SURABAYA BISNIS - Pemerintah Indonesia resmi membuka akses ekspor mineral kritis ke Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari kesepakatan dagang resiprokal atau Agreement on Reciprocal Tariff (ART).

Kebijakan ini mencakup berbagai komoditas strategis, mulai dari nikel, tembaga, bauksit, hingga logam tanah jarang (rare earth), yang memiliki peran penting dalam industri global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pembahasan kerja sama dagang Indonesia–AS mencakup seluruh sektor strategis, termasuk penghiliran mineral.

Pemerintah juga memastikan bahwa peluang investasi bagi perusahaan AS di sektor mineral kritis Indonesia terbuka luas, sejalan dengan upaya memperkuat rantai pasok dan nilai tambah di dalam negeri.

“Critical mineral sudah ada pembicaraan Danantara dengan badan ekspor di Amerika dan beberapa pihak lainnya. Bahkan, ada perusahaan Amerika yang sudah berbicara langsung dengan perusahaan mineral kritis di Indonesia,” ujar Airlangga akhir pekan lalu.

Dalam skema kerja sama tersebut, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan berperan sebagai penghubung utama dengan pola business to business (B2B).

Airlangga mengungkapkan, minat korporasi AS tidak hanya datang dari pemain lama di sektor pertambangan, tetapi juga dari perusahaan teknologi dan otomotif global, seperti Ford Motor Company dan Tesla, yang menargetkan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.

Menurut Airlangga, pembukaan akses ekspor mineral kritis ke AS bukanlah kebijakan baru.

Investasi Negeri Paman Sam di sektor pertambangan Indonesia telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu.

“Investasi mereka (Amerika Serikat, Red) menjadi bagian dari kerja sama ekonomi bilateral yang Panjang,” lanjutnya.

Airlangga mencontohkan Freeport McMoran yang telah beroperasi di sektor tembaga Indonesia sejak 1967 dan kini memiliki fasilitas pemurnian (refinery) di Gresik, Jawa Timur.

Selain itu, Vale juga telah mengembangkan industri nikel di Indonesia sejak era 1970-an.

“Bagi Indonesia, kerja sama mineral kritis dengan Amerika itu sudah lama berjalan. Jadi ini bukan sesuatu yang baru,” tegas Airlangga.

Lebih lanjut Airlangga menjelaskan bahwa kebutuhan mineral kritis AS meliputi tembaga, nikel, bauksit, serta logam tanah jarang yang merupakan produk sampingan dari timah.

Komoditas tersebut tidak hanya dibutuhkan untuk pengembangan kendaraan listrik, tetapi juga untuk mendukung sektor pertahanan dan teknologi tinggi.

“Akses itu diperlukan untuk otomotif, pesawat terbang, roket, pertahanan, hingga kelautan,” ujarnya.

Sementara itu, pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat telah menyepakati finalisasi ART sebagai perjanjian dagang strategis.

Penandatanganan resmi perjanjian tersebut ditargetkan berlangsung pada akhir Januari 2026 oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Kesepakatan ART diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis, meningkatkan arus investasi asing.

Serta mendorong percepatan hilirisasi industri nasional di tengah meningkatnya permintaan global terhadap bahan baku strategis. (ara/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#resiprokal #kesepakatan dagang #Agreement on Reciprocal Trade #airlangga hartarto #ekspor #indonesia #amerika serikat #mineral kritis