RADAR SURABAYA BISNIS - Film Avatar 3 atau Avatar: Fire and Ash, resmi tayang di bioskop mulai 17 Desember 2025.
Film garapan James Cameron ini langsung mencatatkan pendapatan awal sebesar USD 12 juta atau sekitar Rp 200 miliar lebih dari penayangan perdana di Amerika Serikat (AS).
Di pasar internasional, film ini menghasilkan USD 43,1 juta atau Rp 719,6 miliar lebih dari 43 wilayah.
Berarti total Avatar sudah mengantongi cuan hampir Rp 1 triliun, padahal baru beberapa hari dirilis.
Capaian tersebut memang masih berada di bawah film sebelumnya, Avatar: The Way of Water, yang meraih pendapatan sekitar USD 17 juta dari penayangan perdana pada 2022.
Meski demikian, para analis box office tetap optimistis terhadap performa Avatar: Fire and Ash.
“Banyak hal dipertaruhkan dari performa Avatar: Fire and Ash. Dengan waktu kurang dari dua pekan menuju akhir tahun, hasil film ini akan memainkan peran penting dalam membentuk total pendapatan box office tahunan,” ujar Paul Dergarabedian, Head of Marketplace Trends di Comscore dikutip dari CNBC, Sabtu (20/12).
Dari pasar internasional, antusiasme penonton juga cukup kuat.
Disney mencatat pendapatan USD 43,1 juta dari penayangan preview global.
Angka ini menjadi penopang utama pendapatan film, mengingat waralaba Avatar selama ini dikenal sangat kuat di pasar luar Amerika Utara.
Baca Juga: Jelang Akhir Tahun, Harga Emas Antam, Hari Ini, Sabtu, 20 Desember 2025, Naik Lagi
Analis industri menilai setiap film Avatar dirilis dalam kondisi pasar yang berbeda.
Film pertama yang tayang pada 2009 menjadi fenomena global di era sebelum streaming mendominasi industri hiburan.
Sementara film kedua hadir di tengah lonjakan minat penonton pascapandemi Covid-19.
“Situasi yang melingkupi setiap film Avatar sangat berbeda,” kata Shawn Robbins, Director of Analytics di Fandango sekaligus pendiri Box Office Theory.
Film pertama awalnya tampil sederhana lalu berubah menjadi fenomena besar pada masa kejayaan box office sebelum era streaming.
Film kedua diuntungkan oleh tingginya permintaan terhadap sekuel serta status tontonan spesial di masa pemulihan bioskop pascapandemi Covid-19.
Sementara film ketiga kini dirilis di pasar yang lebih kompetitif dan telah memasuki kondisi normal baru.
Meski begitu, waralaba Avatar tetap disebut sebagai “unicorn” di Hollywood.
Film-filmnya selalu mencetak pendapatan fantastis, meski tidak sepenuhnya memiliki pengaruh budaya sekuat Star Wars atau Marvel Cinematic Universe.
Namun dari sisi komersial, dua film Avatar sebelumnya sukses besar. Film Avatar (2009) dan Avatar: The Way of Water (2022) sama-sama mencatat pendapatan global di atas USD 2 miliar.
Pendapatan besar film Avatar juga ditopang oleh penjualan tiket layar premium seperti IMAX, Dolby, dan format 3D yang harganya lebih mahal dibandingkan tiket reguler.
Meski popularitas film 3D di Amerika Serikat cenderung menurun, format ini masih sangat diminati di pasar internasional, terutama di China.
Secara historis, sebagian besar pendapatan Avatar berasal dari luar Amerika Serikat.
Total pendapatan internasional waralaba ini mencapai sekitar USD 2,08 miliar.
Disney mencatat, penjualan preview internasional yang diumumkan belum termasuk China.
Perkiraan awal menunjukkan pendapatan hari pertama sekitar USD 17,1 juta, yang berpotensi menjadi pembukaan tertinggi ketiga untuk film anggota Motion Picture Association sejak The Way of Water. (uta/opi)
Editor : Nofilawati Anisa