Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Sentra Produksi Diminta Suplai ke Daerah yang Kurang Pasokan untuk Stabilkan Harga Cabai Rawit

Nofilawati Anisa • Selasa, 16 Desember 2025 | 21:24 WIB
PANEN: Panel Harga Pangan Bapanas mencatat harga cabai rawit masih mahal, seperti di DKI Jakarta yang mencapai Rp 94.667 per kg.
PANEN: Panel Harga Pangan Bapanas mencatat harga cabai rawit masih mahal, seperti di DKI Jakarta yang mencapai Rp 94.667 per kg.

RADAR SURABAYA BISNIS - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyadari kenaikan harga cabai menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Penambahan pasokan dari daerah sentra produksi pun diminta bisa menjadi solusi kenaikan harga cabai.

Panel Harga Pangan Bapanas mencatat, harga cabai rawit merah di DKI Jakarta masih tinggi, yaitu Rp 94.667 per kilogram (kg).

Padahal, harga acuan penjualan (HAP) ditetapkan Rp 40.000 hingga Rp 57.000 per kg. Secara nasional, harga rata-rata cabai rawit merah Rp 73.119 per kg, jauh di atas HAP.

"Pada saat musim hujan di daerah-daerah sentra mungkin pemetikannya kurang, sehingga harga terkoreksi. Nah begitu nanti kondisi normal akan kembali ke normal," ungkap Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas Maino Dwi Hartono dalam keterangan resmi, Selasa (16/12).

Untuk itu, cabai dari daerah sentra produksi perlu untuk dikirimkan ke beberapa daerah yang kekurangan pasokan.

Maino mendorong ada kesepakatan bisnis yang dijalankan daerah tersebut untuk menstabilkan harga.

Ada dua daerah yang dinilai bisa memasok cabai, yakni Aceh Tengah, yang pasokannya bakal membanjiri pasar-pasar di DKI Jakarta. Serta, Kabupaten Jeneponto, Enrekang, dan Wajo Sulawesi Selatan.

"Memang ada tantangan distribusi karena faktor cuaca dan sebagainya, yang kemudian bisa menyebabkan terganggu pasokan dan ujungnya terkoreksi harga tadi. Nah tapi kita terus lihat perkembangannya day per day secara nasional," sebut Maino.

Maino menjelaskan, program kerja sama antardaerah ini sudah berjalan dalam beberapa tahun terakhir. Utamanya untuk menambah pasokan pangan di daerah-daerah yang masih kekurangan.

"Hal yang lainnya ada peranan pemerintah daerah, bagaimana membantu biaya distribusi, biaya transportasi, sehingga membantu masyarakat bisa menikmati harga pangan dengan harga baik tentunya," tambah Maino.

Dia mengamini kenaikan harga cabai salah satunya dipengaruhi oleh perubahan cuaca.

"Hal yang perlu diantisipasi karena akhir tahun biasanya musim hujan, produk hortikultura seperti sayuran dan cabai memang rentan terhadap perubahan cuaca," tuturnya.

Sebelumnya, Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) mencatat harga cabai rawit merah mulai naik menjelang Nataru. Bahkan, ada temuan harga cabai rawit merah tembus Rp 120 ribu per kg.

Sekretaris Jenderal Ikappi, Reynaldi Sarijowan mengamini kenaikan harga tersebut. Dia melihat adanya pola tahunan yang membuat harga komoditas pangan merangkak naik.

"Kami pantau ya per hari ini kenaikan harga bahan pokok menjelang Nataru sudah sedemikian terasa di beberapa komoditas," kata Reynaldi.

Dia mengungkapkan harga cabai rawit merah sudah mulai lebih tinggi dari Rp 100.000 per kg.

Temuannya, ada sejumlah daerah yang menjual komoditas ini di harga Rp 120.000 per kg, hampir setara satu kilogram daging sapi.

"Sebagai contoh cabai rawit merah ini yang sudah tembus di angka Rp 100 ribu, bahkan tertinggi kami sempat cek ada Rp 120 ribu hampir sama dengan satu kilogram daging," ungkap Reynaldi. (uta/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#produksi #tahun baru 2026 #harga pangan #Bapanas #sentra #natal #pasokan #aceh tengah #cabai rawit