RADAR SURABAYA BISNIS - Pemerintah mengajak pelaku usaha modest fashion untuk merambah ke pasar ekspor.
Langkah ini diharapkan dapat memperluas pangsa pasar produk Indonesia di kancah internasional.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, pada Januari hingga Oktober, nilai ekspor modest fashion mencapai USD 7,1 miliar atau naik 3,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Selain itu, ekspor modest fashion Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif, yaitu 3,13 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
“Dari USD 6,9 miliar pada 2020 menjadi USD 8,4 miliar pada 2024,” kata Menteri yang akrab disapa Busan dalam keterangannya, Kamis (11/12).
Untuk meningkatkan capaian tersebut, Kementerian Perdagangan (Kemendag) memiliki Program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor.
Program ini memfasilitasi para pelaku usaha untuk bertemu dengan buyer luar negeri melalui 46 perwakilan dagang RI di 33 negara yang dapat dilakukan secara daring.
“Semua proses bisa dilakukan secara daring sehingga lebih efisien dan hemat biaya. Sampai saat ini, kami sudah memfasilitasi 1.132 UMKM dengan catatan transaksi mencapai USD 134,40 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun,” jelas Busan.
Ia juga menyoroti peluang ekspor modest fashion ke Uni Eropa seiring dengan diselesaikannya secara substansial perundingan Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).
“Kita sudah menyelesaikan secara substansial perjanjian dagang dengan Uni Eropa yang mencakup 27 negara dengan sekitar 450 juta penduduk. Setelah perjanjian ini berlaku, ekspor pakaian jadi ke negara-negara tersebut akan mendapatkan tarif 0 persen,” urainya.
Dikatakan Busan, salah satu aspek penting yang dimiliki pelaku industri fesyen nasional adalah kemampuan berkolaborasi.
“Kami ingin terus mendukung pengembangan ekosistem ini agar industri, desainer, dan konsumen dapat tumbuh bersama. Produk UMKM dan industri menengah kita bagus sekali dan tidak kalah bersaing,” ujarnya.
Busan menambahkan, agar produk lokal lebih diminati konsumen dalam negeri, maka kualitas produk, promosi, dan ekosistem distribusinya harus diperkuat. Upaya ini juga termasuk melalui niaga elektronik dan kerja sama dengan ritel modern.
“Kunci menguasai pasar dalam negeri adalah harus memiliki produk yang berdaya saing agar konsumen kita sadar kalau produk-produk kita itu bagus. Salah satu yang kita lakukan adalah memfasilitasi business matching dengan buyer dalam negeri agar produk bisa masuk ke department store. Kemudian penting juga untuk membangun ekosistem yang bagus di niaga elektronik,” pungkasnya. (nis/opi)
Editor : Nofilawati Anisa