Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Perajin Kulit Diminta Masuk Produk High-Value, Ini Alasan Kemenperin

Nofilawati Anisa • Rabu, 10 Desember 2025 | 21:23 WIB
FOKUS: Pemerintah ingin agar perajin kulit mampu berkompetisi pada segmen produk high-value yang menjadi tren di berbagai negara.
FOKUS: Pemerintah ingin agar perajin kulit mampu berkompetisi pada segmen produk high-value yang menjadi tren di berbagai negara.

RADAR SURABAYA BISNIS - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing industri kecil dan menengah (IKM) melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia, inovasi produk, serta penguatan identitas budaya nasional.

Salah satu sektor yang menjadi fokus adalah industri kulit dan produk turunannya yang dinilai memiliki potensi pasar global yang tinggi dan memberikan nilai tambah besar bagi ekonomi.

Berbagai kajian memproyeksikan pasar global leather goods dapat mencapai USD 390 miliar hingga USD 738 miliar pada tahun 2030.

Apalagi, produk dengan teknik carving menempati kategori bernilai tinggi karena memiliki nilai jual hingga 2-5 kali lipat dibanding produk kulit polos.

Oleh sebab itu, peningkatan keterampilan teknis seperti teknik carving dipandang sebagai bagian dari strategi utama pengembangan industri kreatif Indonesia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen mendorong IKM naik kelas melalui pelatihan, pendampingan, dan fasilitasi berbasis kompetensi.

“Sub-sektor industri kulit memiliki peluang besar untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi yang menggabungkan kualitas, seni, dan identitas budaya,” kata Agus, Rabu (10/12).

Kemenperin mencatat, kinerja industri kulit dan barang kulit menunjukkan perkembangan positif.

Pada triwulan III/2025, sektor ini tumbuh 4,87 persen dan menyumbang 1,37 persen terhadap PDB industri nonmigas.

Nilai ekspornya mencapai lebih dari USD 7,8 miliar atau meningkat 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Agus menjelaskan, produk kulit Indonesia memiliki prospek kuat di pasar ekspor karena konsumen global semakin menghargai produk kreatif dengan detail seni, personalisasi, dan cerita budaya.

“Pemerintah ingin agar para perajin Indonesia mampu berkompetisi pada segmen produk high-value yang menjadi tren di berbagai negara,” tuturnya.

Dalam upaya meningkatkan kualitas dan daya saing produk IKM kulit nasional, Kemenperin melalui Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) mendorong dilakukannya pelatihan teknis untuk mengembangkan keterampilan sumber daya manusia (SDM) dan meningkatkan kualitas produk IKM kulit.

“Beberapa layanan yang ada di satker BSKJI seperti pendampingan proses produksi, desain dan rekayasa produk, pelatihan kompetensi tenaga kerja didesain supaya IKM dapat meningkatkan efisiensi produksi, kualitas produk, serta daya saing, baik di pasar domestik maupun pasar ekspor,” ujar Kepala BSKJI Emmy Suryandari.

Salah satu satker di bawah binaan BSKJI, yakni Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kulit, Karet, dan Plastik (BBSPJIKKP) telah menjalin kerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Magetan.

Kerja sama dalam bentuk Pelatihan Teknologi Pembuatan Barang Kulit dengan Teknik Carving atau tatah timbul. (nis/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#daya saing #radar surabaya bisnis #industri kulit #menteri perindustrian #ekspor #kemenperin #agus gumiwang #Potensi Pasar