RADAR SURABAYA BISNIS – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat kinerja perdagangan luar negeri provinsi ini menunjukkan tren positif sepanjang Januari hingga Oktober 2025.
Kepala BPS Jatim, Zulkipli, menyampaikan, nilai ekspor Jawa Timur pada periode tersebut mencapai USD 25,34 miliar atau tumbuh 16,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
"Sejalan dengan total ekspor, ekspor nonmigas juga meningkat signifikan menjadi USD 24,83 miliar atau naik 18,43 persen secara tahunan. Namun, secara bulanan ekspor Jatim pada Oktober 2025 justru mengalami penurunan. Nilainya turun menjadi USD 2,43 miliar, merosot 8,98 persen dibandingkan Oktober 2024. Ekspor nonmigas pada bulan tersebut juga menyusut 8,02 persen menjadi USD 2,38 miliar," ujarnya, Kamis (4/12).
BPS Jatim mencatat, dari 10 komoditas utama nonmigas, produk kimia (HS 38) menjadi penyumbang kenaikan terbesar.
Kinerja ekspor produk tersebut melesat USD 353,88 juta atau 49,75 persen.
“Sementara itu, ekspor bahan kimia organik (HS 29) mencatat penurunan terdalam, yaitu turun USD 139,25 juta atau 13,30 persen,” lanjutnya.
Di sisi sektoral, kata Zulkipli, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan mendominasi dengan nilai USD 23,59 miliar, meningkat 18,62 persen. Ekspor pertanian turut tumbuh 17,58 persen, sedangkan ekspor hasil pertambangan dan sektor lainnya justru anjlok 24,41 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi impor, Jawa Timur mencatat nilai USD 24,25 miliar pada Januari-Oktober 2025 atau turun 3,56 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan terbesar terjadi pada impor migas yang hanya mencapai USD 3,91 miliar, merosot drastis 33,48 persen.
Sementara impor nonmigas justru meningkat menjadi USD 20,33 miliar, naik 5,57 persen. Pada Oktober, impor Jatim mencapai USD 2,66 miliar, turun 3,87 persen dibandingkan Oktober 2024.
Impor migas bulan itu merosot 46,84 persen, sedangkan impor nonmigas naik 8,25 persen.
“Berdasarkan komoditas impor utama, perhiasan atau permata mencatat lonjakan terbesar sebesar USD 898,98 juta atau 128,88 persen. Sebaliknya, impor serealia turun tajam USD 670,98 juta atau 40,68 persen dibandingkan periode sebelumnya,” jelas Zulkipli.
Dari sisi penggunaan barang, impor bahan baku/penolong tercatat USD 19,41 miliar, turun 4,92 persen.
Barang modal naik 11,94 persen menjadi USD 2,00 miliar, sementara barang konsumsi turun tipis 3,59 persen menjadi USD 2,83 miliar.
Dengan nilai ekspor yang lebih tinggi dari impor, neraca perdagangan Jawa Timur sepanjang Januari–Oktober 2025 mencatat surplus USD 1,09 miliar.
Surplus ini didorong kuat oleh sektor nonmigas yang menghasilkan surplus USD 4,49 miliar.
Namun, sektor migas masih menjadi beban karena mengalami defisit USD 3,40 miliar, dengan impor mencapai USD 3,91 miliar, jauh lebih besar dibandingkan ekspor yang hanya USD 0,51 miliar.
Zulkipli menegaskan bahwa kinerja sektor migas perlu mendapat perhatian khusus agar surplus neraca perdagangan Jawa Timur dapat terus terjaga.
“Perbaikan efisiensi dan penguatan industri hilir migas menjadi kunci untuk menjaga stabilitas perdagangan ke depan,” pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa