Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Ekspansif di 2025, Utilisasi Sektor IKFT Masih 60 Persen

Nofilawati Anisa • Minggu, 30 November 2025 | 20:52 WIB

 

BEKERJA: Dari sisi ketenagakerjaan, sektor IKFT menyerap 6,7 juta tenaga kerja hingga Februari atau sekitar 4,6 persen dari total tenaga kerja nasional.
BEKERJA: Dari sisi ketenagakerjaan, sektor IKFT menyerap 6,7 juta tenaga kerja hingga Februari atau sekitar 4,6 persen dari total tenaga kerja nasional.

RADAR SURABAYA BISNIS - Kementerian Perindustrian menegaskan ketangguhan sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) sebagai salah satu pilar penting yang menopang stabilitas manufaktur nasional sepanjang 2025.

Kinerja positif ini menjadi modal kuat memasuki tahun 2026, beriringan dengan arah kebijakan pemerintah dalam mendorong transformasi ekonomi dan upaya mencapai target pertumbuhan hingga 8 persen pada tahun 2029.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT), Taufiek Bawazier, menyampaikan, sektor IKFT tetap menunjukkan ketahanan di tengah dinamika global, serta mampu mempertahankan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan industri pengolahan.

“Optimisme pelaku industri memberi sinyal bahwa kita berada pada jalur yang tepat. Tugas pemerintah adalah memastikan ekosistemnya semakin kondusif agar investasi, ekspor, dan produktivitas dapat terus meningkat,” kata Taufiek dalam keterangannya, Minggu (30/11)

Ia menjelaskan, kinerja industri sepanjang 2025 menunjukkan tren yang cukup positif. Pada triwulan III/2025, Industri Pengolahan Nonmigas tumbuh sebesar 5,58 persen (year on year/YoY).

Capaian itu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,04 persen.

“Sektor IKFT bahkan mencatat capaian yang lebih ekspansif dengan pertumbuhan 5,92 persen dan kontribusi 3,88 persen terhadap PDB nasional,” lanjutnya.

Dari sisi perdagangan luar negeri, ekspor IKFT periode Januari hingga Agustus mencapai USD 35,25 miliar, sedangkan impor berada pada USD 32,31 miliar.

Produk kimia, pakaian jadi, serta kulit dan alas kaki menjadi penopang utama ekspor, sementara tingginya impor bahan baku kimia menunjukkan perlunya penguatan struktur industri hulu dalam negeri.

“Secara agregat, utilisasi kapasitas industri IKFT berada di kisaran 60 persen, yang turut terdorong oleh kebijakan hilirisasi terutama pada industri kimia berbasis migas dan bahan galian bukan logam,” urai Taufiek.

Ia menyebut penguatan ini tercermin pula dari peningkatan arus investasi. Dimana realisasi investasi sektor IKFT pada periode Januari hingga September 2025 mencapai Rp 142,15 triliun, naik signifikan dari Rp 116,54 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. “Ada kenaikan Rp 25,61 triliun,” ungkapnya.

Dari sisi ketenagakerjaan, sektor IKFT juga menyerap 6,7 juta tenaga kerja hingga Februari 2025 atau sekitar 4,6 persen dari total tenaga kerja nasional.

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperkuat struktur industri nasional secara menyeluruh dalam mendukung target transformasi ekonomi sebagaimana tertuang dalam RPJPN 2025–2045.

Upaya tersebut mencakup peningkatan kontribusi industri pengolahan terhadap PDB hingga 21,9 persen, serta percepatan laju pertumbuhan ekonomi nasional menuju 8 persen pada 2029.

Dalam konteks ini, sektor IKFT diarahkan menjadi motor penggerak melalui peningkatan konsumsi domestik, optimalisasi investasi, percepatan ekspor, dan penguatan substitusi impor.

“Kunci kita adalah memperkuat struktur industri dari hulu sampai hilir. Mulai dari kemandirian bahan baku, modernisasi mesin, hingga percepatan transformasi digital dan ekonomi sirkular,” tegas Taufiek.

Ia menambahkan, berbagai program prioritas telah disiapkan untuk memperkuat daya saing sektor IKFT.

Termasuk percepatan restrukturisasi mesin dan peralatan, hilirisasi komoditas migas, batubara, dan mineral, revitalisasi industri pupuk nasional, peningkatan ekspor dan investasi, optimalisasi penggunaan produk dalam negeri, serta percepatan implementasi Industri 4.0 dan penguatan rantai pasok bahan baku.

Sektor IKFT juga dihadapkan pada sejumlah tantangan struktural seperti tingginya impor bahan baku kimia, ketergantungan terhadap Active Pharmaceutical Ingredients (API), masuknya produk tekstil murah yang menekan industri dalam negeri, serta potensi rerouting produk kaca dari negara lain.

“Pemerintah menilai bahwa tantangan tersebut perlu direspons melalui strategi komprehensif yang mencakup penguatan regulasi, peningkatan kualitas produk, harmonisasi standar, dan perluasan akses pasar,” pungkas Taufiek. (nis/opi)

Ketangguhan Sektor Industri IKFT
*. Pilar stabilitas manufaktur nasional di 2025
*. Tahan di tengah dinamika global
*. Ekspansif
*. Pertumbuhan 5,92 persen
*. Kontribusi ke PDB 3,88 persen
*. Ekspor USD 35,25 miliar
*. Impor USD 32,31 miliar
*. Surplus perdagangan USD 2,95
*. Utilisasi 60 persen
*. Serap 6,7 juta tenaga kerja
*. Realisasi investasi Rp 142,15 triliun

Sumber: KEMENPERIN RI

 

Editor : Nofilawati Anisa
#manufaktur #radar surabaya bisnis #industri #tenaga kerja #pertumbuhan ekonomi #investasi #realisasi #IKFT