Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Industri Pengolahan Tembakau Pimpin Nilai IKI, Ditopang Permintaan Domestik dan Asing

Nofilawati Anisa • Jumat, 31 Oktober 2025 | 23:17 WIB

 

ILUSTRASI: Industri Pengolahan Tembakau mencatat nilai Indeks Kepercayaan Industri (IKI) tertinggi di bulan Oktober 2025.
ILUSTRASI: Industri Pengolahan Tembakau mencatat nilai Indeks Kepercayaan Industri (IKI) tertinggi di bulan Oktober 2025.

RADAR SURABAYA BISNIS - Industri manufaktur nasional terus menunjukkan ketahanannya di tengah dinamika ekonomi global maupun domestik yang masih bergerak dinamis.

Hal ini tercermin dari capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan Oktober 2025, yang tetap berada di zona ekspansi dengan nilai 53,50.

Capaian ini meningkat 0,48 poin dibandingkan posisi September 2025 sebesar 53,02.

IKI Oktober 2025 juga lebih tinggi dari capaian pada periode yang sama tahun lalu (Oktober 2024) yaitu 52,75 poin.

“Pencapaian ini menandai konsistensi optimisme pelaku industri dalam menjaga aktivitas usaha sepanjang tahun 2025,” ungkap ujar Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arif dalam keterangan resminya, Jumat (31/10/2025).

Ia menjelaskan, kondisi makroekonomi dalam negeri juga memberikan fondasi yang stabil bagi sektor industri.

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate pada level 4,75 persen pada Oktober 2025.

“Capaian ini memberi ruang bagi pelaku usaha untuk menjaga akses pembiayaan tetap terjangkau,” sambungnya.

Lebih jauh Febri menjelaskan, neraca perdagangan yang terus mencatat surplus hingga 64 bulan berturut-turut serta pertumbuhan ekonomi nasional triwulan II/ 2025 sebesar 5,12 persen (yoy) turut memperkuat keyakinan industri dalam melanjutkan ekspansi.

Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, terdapat 22 subsektor yang mengalami ekspansi dengan kontribusi sebesar 98,8 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas triwulan II/2025.

“Kemudian, satu subsektor mengalami kontraksi yaitu Industri Tekstil (KBLI 13), yang masih terdampak pelemahan konsumsi dalam negeri serta tekanan dari peningkatan impor benang dan kain,” urainya.

Febri menjelaskan, dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi yaitu Industri Pengolahan Tembakau (KBLI 12) serta Industri Kertas dan Barang dari Kertas (KBLI 17), yang ditopang oleh peningkatan permintaan domestik dan ekspor.

Beberapa subsektor juga menunjukkan sinyal positif, seperti Industri Kayu, Barang dari Kayu, dan Gabus serta Barang Anyaman dari Bambu, Rotan, dan sejenisnya (KBLI 16) yang mencatat kenaikan IKI berkat pesanan ekspor akhir tahun, terutama ke Jepang dan Eropa.

Dilihat dari komponen pembentuk indeks, peningkatan IKI bulan Oktober ditopang oleh menguatnya permintaan (demand) yang tercermin pada variabel pesanan baru.

Angkanya naik 1,46 poin menjadi 55,25, serta persediaan yang tetap ekspansif di level 56,52, meningkat 0,66 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Di samping itu, variabel produksi masih berada pada fase kontraksi pada angka 48,57.

“Fase kontraksi pada produksi ini telah terjadi selama lima bulan berturut-turut. Kondisi tersebut menunjukkan pelaku industri masih berhati-hati dalam menambah output produksi, mengingat permintaan belum sepenuhnya pulih dan banyak perusahaan masih memanfaatkan stok yang tersedia,” jelas Febri.

Adapun Industri Kertas dan Barang dari Kertas (KBLI 17) mengalami peningkatan permintaan pada produk kemasan makanan, minuman, dan kertas tisu yang didorong oleh kebijakan pembatasan penggunaan kemasan plastik.

Di sisi lain, Industri Kendaraan Bermotor, Trailer, dan Semi Trailer (KBLI 29) mencatat penjualan kendaraan listrik (EV) mencapai 55.225 unit sepanjang Januari–September, melampaui total penjualan sepanjang tahun 2024.

Sementara itu, Industri Furnitur (KBLI 31) mendapatkan dorongan positif melalui Program Bangga Buatan Indonesia (BBI) yang mendorong peningkatan permintaan produk lokal melalui e-katalog pengadaan pemerintah dan pemulihan pesanan dari pasar ekspor.

Jika ditinjau berdasarkan orientasi pasar, kinerja industri berorientasi ekspor dan domestik sama-sama menunjukkan perbaikan.

IKI berorientasi ekspor naik 0,36 poin ke level 54,35 pada Oktober 2025 dari 53,99 pada September 2025.

Sementara itu, IKI berorientasi domestik juga meningkat 0,42 poin ke level 52,34. Keduanya masih berada di zona ekspansi.

“Nampaknya kami melihat ada semacam rebound dari peningkatan belanja pemerintah untuk produk industri dalam negeri,” kata Febri. (nis/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#manufaktur #tembakau #Indeks Kepercayaan Industri (IKI) #Febri Hendri Antoni Arif #industri #kemenperin #Oktober 2025 #Makroekonomi