RADAR SURABAYA BISNIS - Mo
Hal ini juga untuk memperkuat modal disetor dan ditempatkan Perseroan.
Hendro Luhur, Direktur PT Suparma Tbk menjelaskan, pembagian dividen saham ini dilakukan setelah mendapat persetujuan dari para pemegang saham saat RUPS LB.
Jumlah saham yang akan dibagikan berasal dari kapitalisasi saldo laba tahun 2024 sebanyak
946.227.663 saham.
“Adapun rasio 100:30, artinya setiap 100 saham lama dengan nominal Rp 400 per lembar saham akan mendapatkan 30 saham baru dengan nominal Rp 400 per lembar,” kata Hendro saat public expose secara daring, Kamis (30/10).
Dikatakan, para pemegang saham yang berhak atas dividen saham ini adalah mereka yang tercatat sebagai pemegang saham Perseroan hingga 11 November 2025.
Sedangkan pembagian dividen saham akan dilakukan pada 25 November 2025.
“Pembagian dividen saham ini untuk meningkatkan modal ditempatkan dan modal disetor Perseroan. Selain itu juga untuk meningkatkan likuiditas saham Perseroan di bursa,” ujarnya.
Terkait kinerja emiten berkode SPMA ini, Hendro menjelaskan, hingga kuartal III/2025, produsen kertas dan tisu asal Surabaya ini berhasil membukukan penjualan bersih sebesar Rp 1,99 triliun, atau setara dengan 71,1 persen dari target tahunan Rp 2,8 triliun.
Jumlah tersebut mengalami kenaikan tipis 1,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan ini ditopang oleh meningkatnya volume penjualan produk kertas sebesar 2,9 persen, dari 164.295 metrik ton (MT) menjadi 168.988 MT.
Hal itu setara dengan 70,4 persen dari target kuantitas penjualan tahun ini sebesar 240.000 MT.
Namun, laba berjalan perusahaan turun 40,4 persen dari Rp 114,8 miliar pada tahun lalu periode yang sama menjadi Rp 68,4 miliar.
Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh rugi selisih kurs Rp 19,6 miliar. Tahun 2024 mencatat laba selisih kurs Rp 11,1 miliar.
“Rugi kurs ini karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada 30 September 2024, nilai tukar berada di Rp 15.138 per USD, sementara pada periode sama tahun ini naik menjadi Rp 16.680 per USD,” ungkap Hendro.
Diversifikasi Usaha
Sebagai komitmen terhadap energi hijau, Suparma mengembangkan beberapa lini usaha baru di luar bisnis utama kertas dan tisu.
Salah satunya adalah produksi batako yang memanfaatkan limbah batu bara dari pembangkit listrik internal berupa Fly Ash dan Bottom Ash (FABA).
Pemanfaatan FABA menjadi batako tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menghasilkan produk konstruksi yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis.
Produk tersebut menyasar pasar pengembang perumahan, kontraktor sipil, serta distributor bahan bangunan.
Selain itu, SPMA juga mengembangkan Refused Derived Fuel (RDF) — bahan bakar alternatif dari hasil pengelolaan sampah.
RDF dinilai mampu mengurangi volume limbah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
RDF ini dapat dimanfaatkan oleh industri semen, kertas, dan pulp.
“Selain itu, kami juga mengembangkan usaha di bidang kimia dasar yang hasilnya bisa dipakai untuk industri kertas dan pulp, tekstil, aluminium, kimia dan industri pengolahan limbah. Total investasi untuk tiga usaha baru ini sebesar Rp 143 miliar,” tutup Hendro. (fix)
Editor : Nofilawati Anisa