RADAR SURABAYA BISNIS – Provinsi Jawa Timur semakin menarik bagi investor, baik untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA).
Dengan 13 kawasan industri yang sudah beroperasi dan 11 lainnya dalam tahap pengembangan, provinsi paling timur di Pulau Jawa ini bersiap menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyebut kehadiran total 24 kawasan industri tersebut membuka peluang investasi yang semakin luas dan merata di seluruh penjuru provinsi.
“Kawasan industri berperan besar dalam menarik investasi signifikan ke Jawa Timur,” ujar Emil di acara East Java Investment Forum (EJIF) 2025 yang digelar oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur di Surabaya, Rabu (22/10/2025).
Menurut Emil, keberadaan kawasan industri di Jawa Timur sangat strategis, mengingat provinsi ini berpenduduk lebih dari 42 juta jiwa, lebih banyak dibandingkan total penduduk Australia.
“Dengan populasi sebesar itu, kawasan industri menjadi kunci agar arus investasi bisa lebih cepat dan terarah,” jelasnya.
Emil menegaskan, investasi kini tidak lagi terpusat di Surabaya dan sekitarnya.
Berkat peningkatan infrastruktur, geliat industri mulai merambah wilayah selatan dan tapal kuda.
“Pipa gas sudah sampai ke Ploso, Jombang, dan tol telah menembus Trenggalek. Ini membuka akses ekonomi baru,” ujarnya.
Sebagai contoh, perusahaan manufaktur di Nganjuk baru saja mengekspor produk houseware berbahan plastik ke pasar internasional.
“Mereka memanfaatkan konektivitas tol yang semakin baik. Ini bukti daerah-daerah baru kini bisa bersaing di level global,” kata Emil.
Selain infrastruktur, struktur upah juga menjadi faktor penarik.
Wilayah industri inti seperti Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo memang memiliki upah tinggi, namun daerah penyangga menawarkan biaya tenaga kerja yang 50–60 persen lebih rendah.
“Untuk industri padat karya, daerah seperti Probolinggo sangat kompetitif, dengan pelabuhan laut dalam dan akses tol hanya 1,5 jam dari Surabaya,” paparnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan regulasi yang berlaku memberikan kepastian hukum dan tata kelola yang transparan.
“Proses perizinan bukan hambatan, melainkan uji kelayakan untuk memastikan investasi yang sehat dan berkelanjutan,” tegas Emil.
Ia juga menyebut seluruh aset milik Pemprov kini dikelola terbuka.
“Semua dibuka terang-benderang. Siapa yang memberi nilai tambah dan dampak ekonomi terbaik, itu yang kami pilih,” katanya.
Emil menegaskan bahwa kunci keberhasilan investasi bukan hanya infrastruktur dan kebijakan, tetapi juga kepercayaan publik.
Karena itu, Pemprov Jatim bersama aparat penegak hukum dan kepala daerah telah menandatangani komitmen bersama menciptakan iklim investasi yang aman dan bersih.
“Mereka berjanji memberantas pungutan liar, memperkuat koordinasi, dan menjaga citra Jawa Timur sebagai provinsi ramah investasi. Ini bukan sekadar janji, melainkan kontrak sosial baru antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat,” tegasnya.
Semantara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jatim Ibrahim mengatakan kontribusi investasi terhadap ekonomi Jawa Timur kini mencapai 27 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
“Agar pertumbuhan tetap tinggi dan berkelanjutan, porsi investasi ini harus dijaga,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, forum EJIF menjadi sarana strategis untuk memastikan Jawa Timur tetap dalam radar investor nasional maupun global.
“Investor selalu membandingkan potensi antarwilayah. Melalui forum ini, kita pastikan Jawa Timur tetap jadi tujuan utama,” tegasnya.
Data BI mencatat, investasi menjadi kontributor terbesar kedua bagi ekonomi Jawa Timur dengan pertumbuhan 6,13 persen pada kuartal II/2025.
Lonjakan ini didorong meningkatnya investasi langsung di kawasan industri, perumahan, dan manufaktur.
Kawasan unggulan seperti KEK Gresik (JIIPE), KEK Sidoarjo, Kawasan Industri Pasuruan, Tuban, Lamongan, hingga Halal Industrial Park Sidoarjo kini menjadi simpul pertumbuhan ekonomi baru.
“Kawasan-kawasan ini mengubah potensi menjadi produktivitas, dan sumber daya menjadi kesejahteraan,” jelas Ibrahim. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa