RADAR SURABAYA BISNIS - Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal, Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Nurul Ichwan menegaskan, hilirisasi mineral merupakan strategi utama Indonesia dalam memperkuat struktur ekonomi nasional.
Langkah ini juga untuk mempercepat transformasi menuju pembangunan berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa pengembangan industri hilir harus selaras dengan regulasi internasional.
Termasuk EU Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) serta kebijakan environmental and human-rights due diligence.
“Agar industri nasional mampu bersaing di pasar global,” ungkap Nurul dalam keterangannya, Sabtu (11/10).
Nurul menjelaskan, pemerintah menargetkan investasi sebesar lebih dari Rp 3.800 triliun dalam lima tahun ke depan untuk pengembangan industri hilir dari 15 komoditas prioritas, termasuk nikel, tembaga, bauksit, dan baja.
“Hilirisasi bukan hanya tentang industrialisasi, tetapi tentang menciptakan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan, mendukung transisi energi, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” lanjutnya.
Nurul menambahkan, mineral kritis kini menjadi aset strategis dalam diplomasi ekonomi internasional.
Dimana kebijakan nasional harus mampu menjembatani kepentingan negara kaya sumber daya dengan negara pemilik teknologi dan modal.
“Pemerintah juga mendorong agar proses hilirisasi berjalan seiring dengan penerapan prinsip good mining practices dan pemanfaatan energi bersih untuk memastikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.
Melalui hilirisasi mineral yang berorientasi hijau, pemerintah menargetkan terciptanya pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dengan laju hingga delapan persen.
Sekaligus menempatkan Indonesia sebagai pusat investasi berkelanjutan di kawasan dan dunia.
“Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, dunia usaha, dan mitra global diharapkan mampu memperkuat nilai tambah sumber daya mineral Indonesia, memastikan tata kelola yang bertanggung jawab, serta menjadikan Indonesia sebagai poros utama ekonomi hijau di era transisi energi global,” pungkas Nurul. (nis/opi)
Editor : Nofilawati Anisa