Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Kopi Situbondo Diminati Pasar Arab Saudi

Nofilawati Anisa • Kamis, 9 Oktober 2025 | 14:58 WIB
PANEN: Petani kopi di Sitobondo sedang memanen di kebun.
PANEN: Petani kopi di Sitobondo sedang memanen di kebun.

RADAR SURABAYA BISNIS – Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kopi dunia.

Berdasarkan data dari Foreign Agricultural Service di bawah United States Department of Agriculture (USDA), Indonesia berada di peringkat keempat negara produsen kopi terbesar di dunia.

Produksi kopi Indonesia per Desember 2024 diperkirakan berada di angka 10,90 juta karung, dengan berat per karung sebesar 60 kg, sekitar 654 ribu metrik ton.

Negara dengan produksi kopi terbesar di tahun 2024 diraih oleh Brasil, dengan estimasi produksi kopi sebanyak 66,40 juta karung. Vietnam berhasil masuk ke peringkat kedua negara dengan produksi kopi terbesar mencapai 30,10 juta karung.

Sementara itu, Indonesia mengekspor 206,7 ribu ton kopi sepanjang semester pertama tahun 2025 ke berbagai negara tujuan, termasuk Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Timur Tengah, dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Bagus Rachman, mengatakan, pencapaian ini menjadi bukti nyata daya saing UMKM Indonesia di kancah internasional.

“Indonesia adalah salah satu penghasil kopi terbesar di dunia, dengan lebih dari 90 persen perkebunan dikelola oleh petani rakyat," ujar Bagus dalam keterangan resminya, Rabu (8/10/2025).

Salah satu sorotan ekspor terbaru adalah pengiriman 15 ton kopi specialty Argopuro Walida senilai Rp 3 miliar ke Jeddah, Arab Saudi, Senin (6/10/2025).

Kopi ini merupakan hasil kemitraan antara Kelompok Masyarakat (Pokmas) Argopuro Walida dan 568 petani kopi di Situbondo, dengan potensi kemitraan yang dapat menjangkau hingga 1.500 petani.

Bagus menambahkan untuk memaksimalkan potensi kopi nasional, Kementerian UMKM telah meluncurkan program Holding UMKM Klaster Perkebunan.

Program ini bertujuan membangun ekosistem rantai pasok yang terintegrasi antara usaha mikro, kecil, menengah, dan perusahaan besar, sehingga komoditas unggulan seperti kopi dapat memiliki nilai tambah yang tinggi.

“Kopi Argopuro menjadi contoh nyata bagaimana usaha menengah dapat menjadi lokomotif penggerak ekosistem UMKM,” ujar Bagus.

Dalam skema holding ini, usaha menengah akan berperan sebagai operator yang menjalankan empat pilar utama: agregator, inkubasi, pemasaran, dan pendanaan.

Pendekatan klaster ini diharapkan mampu menghubungkan UMKM secara sistematis, mendorong produktivitas, efisiensi, inovasi, dan keberlanjutan.

“Dengan dukungan dari pemerintah, BUMN, swasta, dan lembaga keuangan, kita bisa membangun ekosistem kemitraan yang tangguh dan berdaya saing tinggi,” kata Bagus.

Ketua Pokmas Argopuro Walida, Muhlisin, menyatakan kesiapan pihaknya untuk menjadi operator dalam program Holding UMKM Klaster Perkebunan.

“Kami siap menjadi operator agar semakin banyak petani kopi terhubung, semakin kuat jejaringnya, dan semakin luas pasarnya,” ujar Muhlisin.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor kopi Indonesia sepanjang tahun 2024 mencapai USD 1,63 miliar, meningkat 76,3 persen dibandingkan tahun 2023.

Lima negara tujuan ekspor kopi utama pada 2024, yaitu Amerika Serikat, Mesir, Malaysia, Belgia, dan Rusia. (ara/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#situbondo #uni eropa #timur tengah #asia tenggara #kopi #ekspor #jeddah #arab saudi