RADAR SURABAYA BISNIS - Perkembangan harga berbagai komoditas di Jatim pada September 2025 secara umum menunjukkan adanya kenaikan.
Berdasarkan hasil pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur di 11 kabupaten/kota, pada September 2025 terjadi inflasi year on year sebesar 2,53 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,21 pada September 2024 menjadi 108,90 pada September 2025.
Adapun secara m-to-m dan year to date terjadi inflasi masing-masing sebesar 0,23 persen dan 1,67 persen.
"Inflasi (yoy) terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,36 persen.
kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,80 persen. Kemudian kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,33 persen. Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,45 persen, kelompok kesehatan sebesar 2,12 persen, kelompok transportasi sebesar 0,05 persen. Dan kelompok rekreasi, olahraga, dan budayasebesar 1,16 persen," ujar Kepala BPS Jatim, Zulkipli, Rabu (1/10).
Dia menambahkan, disusul kelompok pendidikan sebesar 1,71 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,76 persen.
Serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 11,09 persen.
"Untuk kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,54 persen," ujarnya.
Zulkipli mengatakan komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi yoy pada September 2025 antara lain emas perhiasan, beras, daging ayam ras, bawang merah, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, telur ayam ras, nasi dengan lauk, Sigaret Kretek Mesin (SKM), kopi bubuk, santan jadi, kelapa, mobil, cabai merah, sepeda motor, akademi/perguruan tinggi, Sigaret Kretek Tangan (SKT), sekolah dasar, air kemasan, dan kontrak rumah.
Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi yoy antara lain angkutan udara, bawang putih, bensin, telepon seluler, cabai rawit, ikan mujair, pisang, kentang, daun bawang, dan laptop/ notebook.
"Sementara komoditas yang dominan memberikan andil inflasi m-to-m pada September 2025, antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, dan Sigaret Kretek Mesin (SKM). Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi m-to-m, adalah bawang merah, angkutan udara, dan tomat,” jelasnya.
"Untuk kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, yaitu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,04 persen," pungkasnya. (mus)
Editor : Nofilawati Anisa