RADAR SURABAYA BISNIS - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat pada 2024, luas potensi gagal panen padi per bulan hampir selalu lebih tinggi dibandingkan 2023.
Kecuali pada bulan Januari, September, dan Oktober 2024.
Puncak gagal panen terjadi pada bulan Juni 2024 yang sebesar 14,15 ribu hektare.
"Sementara di 2023, potensi gagal panen tertinggi terjadi pada bulan Juli yaitu sebesar 2,51 ribu hektare," kata Kepala BPS Jatim Zulkipli, Kamis (18/9/2025).
Ia menjelaskan, penyebab gagal panen atau rusak biasanya akibat bencana alam seperti banjir dan kekeringan, serta akibat serangan hama/organisme pengganggu tanaman (OPT).
"Pergeseran pola ini mencerminkan adanya gangguan pada awal musim tanam 2024 yang kemungkinan besar diakibatkan oleh dampak lanjutan fenomena El Nino tahun 2023 serta transisi menuju musim hujan," jelasnya.
Menurutnya kondisi ini menunjukkan bahwa fenomena El Nino tidak hanya berdampak pada musim kemarau, tetapi juga mengganggu kestabilan pola tanam dan panen pada musim hujan berikutnya.
Kemudiam luas persiapan lahan adalah luas lahan yang sedang diolah dan direncanakan akan ditanami tanaman tertentu.
Ciri-cirinya berupa sudah ada aktivitas pengolahan lahan, seperti tanah digemburkan, dibajak, atau diairi.
Persiapan lahan biasanya dilakukan setelah fase panen.
Pada tahun 2024 terjadi lonjakan signifikan luas persiapan lahan pada bulan Mei yang mencapai 94 ribu hektare, lebih tinggi dibandingkan Mei 2023 yang sebesar 62 ribu hektare.
Namun, kondisi ini kemudian menurun hingga Agustus 2024.
Sementara itu, pada akhir tahun 2024, luas persiapan lahan kembali meningkat dan mencapai puncaknya lebih awal di bulan November, sedangkan pada 2023 terjadi di bulan Desember.
Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran musim tanam padi dari akhir 2023 hingga awal 2024.
Kabupaten/kota dengan luas persiapan lahan yang cenderung tinggi setiap bulannya pada 2024 adalah Kabupaten Lamongan, Kabupaten Tuban, dan Kabupaten Bojonegoro.
Hal ini sejalan dengan luas lahan pertanian yang relatif besar di ketiga kabupaten tersebut dibandingkan wilayah lain.
"Di sisi lain, wilayah dengan luas persiapan lahan yang relatif kecil setiap bulannya pada 2024 adalah Kota Probolinggo dan Kota Mojokerto, yang secara umum memiliki keterbatasan dalam ketersediaan lahan pertanian," pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa