Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Tiga Alumni DSC Ciptakan Inovasi Lokal di Jawa Timur, dari Audio Custom, Dessert Sehat hingga Furnitur dari Sampah Plastik

Nofilawati Anisa • Sabtu, 13 September 2025 | 20:19 WIB

 

BANGGA: Alvon Yulius (kanan) bersyukur perangkat earphone yang diciptakannya lewat Avara Custom saat ini sudah digunakan oleh ratusan musisi Tanah Air.
BANGGA: Alvon Yulius (kanan) bersyukur perangkat earphone yang diciptakannya lewat Avara Custom saat ini sudah digunakan oleh ratusan musisi Tanah Air.

RADAR SURABAYA BISNIS – Jawa Timur menjadi salah satu provinsi dengan pertumbuhan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tertinggi di negeri ini.

Berdasarkan data pada kuartal IV/2024, terdapat sebanyak 1,5 juta pelaku UMKM di Jawa Timur.

Jutaan UMKM itu mampu memberikan kontribusi yang signifikan pada PDRB Jatim hingga mencapai 59,18 persen.

Data ini menjadi bukti bahwa Jawa Timur tengah menjadi salah satu hub bagi inovasi dan kreativitas wirausaha Indonesia.

Jawa Timur juga termasuk provinsi yang melahirkan banyak pahlawan UMKM yang sukses mengikuti beragam kompetisi di Indonesia.

Salah satunya Program Diplomat Success Challenge (DSC) yang tahun ini telah memasuki tahun ke-16 penyelenggaraannya.

Sebagai program kompetisi dan inkubasi kewirausahaan, DSC juga memiliki tujuan menjadi ruang yang aman bagi para entrepreneur dalam ekosistemnya untuk berdampak melalui DEN (Diplomat Entrepreneur Network).

Jawa Timur sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan UMKM yang tinggi di Indonesia, juga secara rutin berpartisipasi dalam DSC dari tahun ke tahun.

Tiga pelaku usaha asal Jawa Timur menunjukkan bagaimana DSC memiliki peran bagi mereka dalam membangun bisnis dengan nilai otentik, berkelanjutan, sekaligus adaptif terhadap tren.

Finalis DSC Season 9 di tahun 2018, Alvon Yulius kini bertumbuh bersama Avara Custom.

 

KUDAPAN SEHAT: Owner Yorri Eatery, Yessie Natasia bersama produk unggulannya yang berkembang pesat justru ketika negeri ini pandemi Covid-19.
KUDAPAN SEHAT: Owner Yorri Eatery, Yessie Natasia bersama produk unggulannya yang berkembang pesat justru ketika negeri ini pandemi Covid-19.

Avara Custom adalah sebuah manufaktur custom dan Universal In Ear Monitor (IEM) yang merupakan perangkat earphone yang dicetak 100 persen sesuai telinga pemakainya.

Alvon membangun Avara Custom karena melihat permasalahan dimana saat itu belum ada Custom IEM yang diproduksi anak bangsa.

“IEM merupakan perangkat wajib yang dipakai oleh musisi profesional serta mereka yang memiliki standar tinggi dalam bidang audio. Dulu Custom IEM harus impor dari Amerika Serikat, Jepang atau Eropa. Jadi, harganya mahal dan juga lama mendatangkannya,” ujar Alvon.

Selain menjadi finalis DSC 2018, Avara Custom juga menorehkan prestasi sebagai finalis Good Design Indonesia 2020 dari Kementerian Perdagangan, finalis Indonesia Good Design Selection 2020 dari Kementerian Perindustrian, dan merupakan representatif Indonesia dalam NAMM Show 2023 di Amerika Serikat.

Saat ini, Avara Custom merupakan produsen CIEM/IEM Universal dengan harga paling terjangkau dengan waktu produksi yang cepat karena mengkombinasikan teknologi SLAprint pada printer 3D yang dapat memindai dan menangkap setiap detail bentuk telinga secara akurat tanpa kehilangan resolusi atau detail mikro.

Dari sisi desain, Avara Custom juga tengah mengembangkan inovasi material produk berkelanjutan.

Salah satunya dengan memanfaatkan limbah kayu jati pecahan untuk dijadikan bahan baku CIEM.

Limbah kayu jati ini dipahat menggunakan tangan untuk mendapatkan bentuk yang 100 persen sama dengan bentuk telinga pemakainya.

“Inovasi ini diharapkan dapat menambah nilai produk-produk Avara, terutama saat bersaing dengan produk dari mancanegara,” kata Alvon.

UMKM Jawa Timur yang juga makin bersinar lewat DSC adalah Yorri Eatery.

UMKM yang lahir di Kawasan Kutisari Surabaya itu menjual dessert sehat yang menjangkau semua konsumen.

Yorri Eatery dilahirkan sekaligus dijalankan oleh Yessie Natasia bersama adiknya, Rio.

INOVASI: Syukriatun Niamah lewat Robries berhasil mengolah sampah plastik menjadi produk material desain berkelas dunia.
INOVASI: Syukriatun Niamah lewat Robries berhasil mengolah sampah plastik menjadi produk material desain berkelas dunia.

Usaha yang dirintis lalu berkembang pesat saat pandemi Covid-19 itu menjadi finalis DSC 2022.

Yessie bercerita Yorri Eatery memperkenalkan dessert rendah kalori, bebas gluten, dan berbahan plant-based.

Dibangun tahun 2021, saat itu Yessie dan adiknya yang adalah seorang vegan dan vegetarian merasa kerap kesulitan mencari makanan dan minuman berbahan nabati sehingga harus membuatnya sendiri.

“Hal inilah yang menjadi cikal bakal Yorri Eatery,” kata Yessie.

Tidak sekadar latah mengikuti tren healthy lifestyle, lanjut Yessie, Yorri juga menekankan pada rasa dan pengalaman menikmati hidangan penutup atau kudapan yang tetap nikmat sekaligus aman untuk berbagai preferensi diet.

Inovasi ini membuka jalan baru bagi industri kuliner sehat, sekaligus membuktikan bahwa bisnis mindful eating bisa kompetitif di pasar yang lebih luas.

“Tren mengonsumsi makanan sehat yang secara masif menjamur sejak era pandemi membuat Yorri menjadi salah satu pemain plant-based dessert dan kudapan sehat yang diperhitungkan di daerah Jawa Timur, khususnya di Surabaya,” ungkapnya.

Setelah menjadi finalis DSC, misi Yorri Eatery menjadi lebih tajam.

Yaitu bagaimana membuat healthy dessert dapat diakses lebih banyak orang.

“Bukan hanya soal harga yang lebih terjangkau, tapi juga dengan menambah varian produk dengan ragam bahan pangan lokal serta pengolahan yang bebas pengawet, pemanis buatan, pewarna makanan, atau bahan non-alami lainnya,” kata Yessie.

Yessie juga mengungkapkan bahwa peran mentor selama mengikuti DSC sangat membantu mengarahkan perjalanan bisnisnya.

Ia semakin konsisten mengikuti berbagai offline activation, merencanakan pembukaan offline outlet, serta aktif berkolaborasi dengan berbagai brand, baik lokal maupun nasional.

Semangat ini membuat arah pengembangan Yorri semakin jelas.

Bagi Yessie, keberlanjutan bukan hanya soal produk sehat atau kemasan ramah lingkungan, tetapi juga bagaimana membangun manajemen yang solid dan pengembangan bisnis yang berkesinambungan.

Saat ini, Yorri tengah mempersiapkan central kitchen dan humble bake shop untuk memperkuat fondasi perusahaan.

“Kami juga menjalin kerja sama dengan sejumlah rumah sakit di Surabaya sebagai bagian dari strategi B2B untuk memperluas jangkauan dan dampak bisnisnya,” pungkas lulusan Jurusan Hubungan Internasional (HI) FISIP Universitas Airlangga (Unair) itu.

UMKM Jawa Timur ketiga yang juga sukses di DSC adalah Robries.

UMKM ini mengubah sampah plastik menjadi material desain berkales dunia.

Syukriatun Niamah, Founder & CEO Robries, mengatakan, UMKM-nya merupakan finalis DSC Season 15 tahun 2024.

Ia bercerita, dengan sentuhan green business mindset, Robries lahir dari keresahan akan masalah sampah plastik di Indonesia.

Robries mengolah limbah plastik menjadi material terbarukan berupa Robries Polymer Sheet (RPS), yang kemudian dapat digunakan menjadi material interior, arsitektural, maupun dikreasikan menjadi furnitur yang dirancang modern dan fungsional.

Setiap produk Robries tidak hanya estetis, tetapi juga membawa pesan keberlanjutan, bagaimana sisa plastik bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat dengan tetap mempertahankan kualitas terbaik.

Brand ini kini menjadi representasi nyata dari circular economy, memperlihatkan bahwa bisnis bisa berkembang tanpa meninggalkan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

“Berbekal ilmu desain produk saat kuliah, dan di saat yang sama saya melihat pengolahan sampah di Indonesia belum memadai sehingga limbah sampah menjadi masalah bagi masyarakat,” kata lulusan ITS itu.

Di sisi lain, Sukriatun dan tim juga terpacu untuk menghadirkan produk daur ulang yang bisa membawa pengaruh baik di tengah masyarakat.

“Bukan hanya bangga memakai produk daur ulang, tapi juga bisa mengubah perilaku konsumen dalam mengolah sampah,” sambungnya.

Hingga saat ini, Robries telah memproduksi lebih dari 27.000 produk yang dibuat dari 198 ton lebih sampah plastik.

Dalam lima tahun terakhir, Robries telah bekerja sama dengan 1.000 klien lebih.

Yang tidak hanya di dalam negeri tetapi juga meluas ke mancanegara dengan beberapa distributor di Singapura, potensi kemitraan di Taiwan, Filipina, dan Australia.

“Kami juga menambah distribusi resmi di Malaysia dan Uni Eropa di tahun ini,” ujarnya.

Anastesya Ftraya, perwakilan Wismilak Foundation selaku inisiator program DSC mengatakan, pencapaian yang ditorehkan oleh para alumni merupakan kebangaan tersendiri bagi ekosistem DSC yang sudah berdiri selama 16 tahun di Indonesia.

“Kebangaan DSC akan alumni kami tidak serta merta hanya karena mereka membangun bisnis yang sukses, namun mereka juga meninggalkan legacy melalui kolaborasi kreatif dan inovatif. Ini bukti nyata bahwa DSC memupuk mindset kewirausahaan yang kuat, adaptif, dan berdampak”, ungkap Anastesya.

Ia menjelaskan, sebagai program kompetisi, inkubasi, dan ekosistem kewirausahaan terbesar di Indonesia, tahun ini, DSC Season 16 hadir kembali dengan semangat baru, yaitu “Wujud Sinergi Kolaborasi”.

“Pendaftaran DSC Season 16 telah dibuka, dan siap menawarkan hibah modal usaha dengan total Rp 2,5 miliar. DSC Season 16 terbuka bagi seluruh wirausaha Indonesia yang siap membangun dampak nyata dan berkolaborasi untuk warisan masa depan Indonesia,” pungkasnya. (ara/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#Diplomat Succes Challenge #Robries #dessert #Wismilak #lokal #radar surabaya bisnis #entrepreneur #sampah plastik #Kudapan Sehat #pertumbuhan #inovasi #umkm #inovatif #Yorri Eatery #Avara Custom #limbah