RADAR SURABAYA BISNIS - Permasalahan petani tebu kian bertambah. Hingga saat ini masih banyak gula milik petani yang menumpuk di gudang.
Kini harga molase (tetes tebu) juga anjlok, bahkan tidak terserap. Padahal biaya produksi tebu yang kian meningkat.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen kepada Radar Surabaya, Kamis (4/9/2025).
Diketahui molase adalah cairan kental berwarna cokelat tua, produk sampingan dari industri gula tebu yang juga dikenal dengan nama tetes tebu.
Cairan ini digunakan dalam berbagai industri, salah satunya etanol.
Harga molase kini sudah anjlok hingga hanya sekitar Rp 1.000 per kilogram (kg), jauh turun dari posisi sebelumnya Rp 2.500 – Rp 3.000 per kg.
Penyebabnya bukan semata soal produksi yang melimpah, melainkan karena industri etanol dalam negeri memilih menahan diri.
“Para produsen etanol tidak berani menyerap molase petani lantaran khawatir pasarnya bakal hilang dihantam impor etanol murah,” ungkap Soemitro.
Seoemitro menegaskan molase berbeda dengan gula yang bisa disimpan lama.
Jika dibiarkan menumpuk, molase bisa berubah sifat. Bahkan berisiko menimbulkan pencemaran lingkungan.
"Molase disimpan lebih dari 2-3 bulan bisa berubah. Bahkan kalau itu tidak segera ditangani atau dikeluarkan, itu bisa meledak. Kalau meledak bisa juga terjadi pencemaran lingkungan. Bahkan pabriknya bisa tutup," katanya.
Permasalahan petani tebu yang lain adalah biaya produksi yang meningkat akibat cuaca yang tidak menentu.
"Saat ini kan kadang-kadang masih hujan, kalau ladang tebu bamjir kan otomatis truk tidak bisa masuk sehingga biaya angkutnya bertambah," katanya.
"Belum lagi bocornya gula rafinasi di pasaran. Kalau memang ingin produksi tebu kita meningkat, harus ada upaya dari pemerintah terkait permasalahan ini. Tahun ini harga gula dan tebu sudah anjlok dibanding tahun kemarin, ditambah lagi tidak terserap. Lantas apa upaya pemerintah supaya petani ini semakin meningkatkan produksinya," pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa