Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Investasi Industri Mamin hingga Triwulan II/2025 Tembus Rp 53,17 Triliun

Nofilawati Anisa • Minggu, 31 Agustus 2025 | 23:10 WIB
PENGEPAKAN: Aktivitas di salah satu industri makanan dan minuman (mamin) nasional.
PENGEPAKAN: Aktivitas di salah satu industri makanan dan minuman (mamin) nasional.

RADAR SURABAYA BISNIS - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan industri makanan dan minuman (mamin) sebagai salah satu sektor andalan dalam menopang perekonomian nasional.

Industri mamin dinilai memiliki potensi besar karena didukung oleh ketersediaan sumber daya alam melimpah, kapasitas produksi kompetitif, serta permintaan domestik yang terus meningkat.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa industri mamin adalah subsektor manufaktur yang konsisten memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

“Industri makanan dan minuman tumbuh sebesar 6,15 persen pada triwulan II Tahun 2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,12 persen,” kata Agus dalam keterangannya, Minggu (31/8/2025)

Pada periode yang sama, industri mamin berkontribusi sebesar 41 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.

Menjadikannya subsektor dengan sumbangsih paling tinggi.

“Sektor makanan dan minuman telah menjadi motor utama pertumbuhan industri pengolahan nonmigas. Selain mendominasi pangsa pasar industri, sektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar serta berperan penting dalam mendorong ekspor,” ungkapnya.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika juga menyampaikan kinerja gemilang dari industri mamin.

Hingga Mei, ekspor industri mamin mencapai USD 18,59 miliar (termasuk minyak kelapa sawit). Dari angka tersebut, neraca perdagangan sektor mamin minuman surplus sebesar USD 13,14 miliar.

“Investasi di industri mamin pun turut tumbuh signifikan, dengan total investasi mencapai Rp 53,17 triliun hingga triwulan II/2025, yang terdiri dari penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp 18,97 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 34,19 triliun,” ungkapnya.

Putu juga menyampaikan, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Agustus, menunjukkan sektor industri mamin berada pada level ekspansi dengan nilai 54,89.

Capaian ini meningkat 1,25 poin dari bulan sebelumnya (53,64).

Tingkat ekspansi ini juga mencerminkan iklim usaha masih kondusif dan adanya potensi peningkatan kegiatan usaha sektor mamin ke depannya.

“Industri biskuit merupakan subsektor yang tumbuh konsisten setiap tahun. Saat ini terdapat lebih dari 100 perusahaan biskuit di Indonesia dengan kapasitas terpasang 1,72 juta ton dan utilisasi sebesar 62 persen,” sebutnya.

Untuk produk biskuit, Indonesia menempati posisi ke-11 dalam pemenuhan pasar global dengan kontribusi 3,59 persen.

Bahkan, ekspor biskuit Indonesia menunjukkan tren kenaikan, dengan nilai ekspor tahun 2023 sebesar USD 443 juta, meningkat 4,5 persen dibandingkan 2022.

Sebagai bentuk langkah nyata untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor, Kemenperin mendorong penggunaan tepung berbasis bahan baku lokal, seperti tepung sagu, sebagai penggganti tepung terigu.

“Tepung sagu bersifat nongluten dan memiliki indeks glikemik rendah, sehingga berpotensi menjadi bahan baku pangan fungsional yang ramah bagi kelompok berkebutuhan khusus,” jelas Putu. (nis/opi)

 

 

Editor : Nofilawati Anisa
#produksi #manufaktur #radar surabaya bisnis #industri #kapasitas #mamin #agus gumiwang kartasasmita #investasi #triwulan II