RADAR SURABAYA BISNIS - Produksi beras Jawa Timur mengalami peningkatan yang cukup signifikan secara year on year (YoY).
Kalau Januari-Agustus 2024, produksi beras sebesar 4.224.058 ton, maka di periode yang sama tahun ini (Januari-Agustus 2025) menjadi 4.721.651 ton.
"Ada peningkatan 497.593 ton atau 11,78 persen, hapir 500 ribu ton" ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Heru Suseno kepada Radar Surabaya, Kamis (21/8/2025).
Heru menambahkan untuk produksi padi gabah kering giling (GKG) pada Januari-Agustus 2024 mencapai 7.315.398 ton, sedangkan Januari-Agustus 2025 sebanyak 8.177.151 ton.
"GKG juga mengalami peningkatan sebanyak 861.752 ton," sambungnya.
Untuk luas panen pada Januari-Agustus 2024 mencapai 1.303.526 hektare.
Sedangkan Januari - Agustus 2025 mencapai 1.459.407 hektare.
Meningkat sekitar 155.881 hektare atau 11,96 persen.
Sementara itu Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan monitoring terhadap stok dan distribusi beras ini menjadi sangat penting.
Menurutnya stok beras di Jatim sangat aman, maka kelancaran distribusi diharapkan juga aman.
"Kami akan minta Bulog mengoptimalkan distribusi beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) supaya masyarakat bisa memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangganya terutama dari beras," jelasnya.
Berdasarkan pantauan Kementerian Pertanian (Kementan), harga beras kini mulai turun di berbagai daerah, antara lain Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Aceh, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Lampung. Namun, di Sumatera Utara harganya masih relatif tinggi.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman berpendapat bahwa tingginya harga beras menyebabkan penyerapan besar oleh Bulog.
Ia menegaskan, porsi Bulog hanya sekitar 8 persen dari total beras yang beredar, sedangkan 92 persen dikuasai swasta. “Jadi bukan Bulog alasannya,” tegasnya.
Amran menegaskan stok beras nasional saat ini dalam kondisi surplus, namun harga di pasar masih menunjukkan anomali.
Menurutnya, ketidakstabilan harga lebih disebabkan oleh faktor struktural dan dinamika perilaku pasar.
Menangapi isu banyaknya penggilingan padi kecil yang termasuk tutup, Amran menilai informasi itu tidak sepenuhnya tepat.
Amran menjelaskan persoalan utamanya terletak pada keseringan kapasitas giling dengan produksi padi nasional, bukan semata-mata karena penutupan baru-baru ini.
“Sekarang ada tiga klaster penggilingan, yaitu kecil, menengah, dan besar. Jumlahnya masing-masing 161.000 unit kecil, 7.300 menengah, dan 1.065 besar. Jelas ya,” katanya.
Amran memaparkan, kapasitas giling penggilingan kecil saja mencapai 116 juta ton per tahun, sementara produksi padi nasional hanya sekitar 65 juta ton.
Artinya, kapasitas yang tersedia jauh lebih besar dari produksi sehingga banyak mesin tidak beroperasi secara optimal.
“Kalau kapasitas 116 juta ton, tapi produksi padi hanya 65 juta ton, jelas banyak yang idle,” tegasnya.
Amran menambahkan, kabar mengenai penggilingan kecil yang tutup sebenarnya bukan fenomena baru.
Kondisi tersebut sudah lama terjadi akibat struktur pasar yang timpang.
Faktor musiman ikut memperkuat situasi ini.
Produksi padi yang dominan di semester pertama (70 persen total produksi nasional) membuat banyak gabah sudah digiling pada awal tahun, sedangkan di semester kedua pasokan bahan baku menurun.
Amran juga menyoroti ketimpangan harga.
Penggilingan besar sering mampu membeli gabah dengan harga lebih tinggi, sehingga mengurangi daya saing penggilingan kecil.
“Kalau yang kecil beli ikut Rp 6.500, yang besar bisa Rp 6.700. Kalau yang kecil naik Rp 6.700, yang besar beli Rp 7.000. Akhirnya yang kecil terganggu,” jelasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa