Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

BPS Mencatat 386 Ribu Lebih Perempuan Jawa Timur Berstatus Pengangguran

Mus Purmadani • Rabu, 13 Agustus 2025 | 13:29 WIB
Kepala BPS Jatim Zulkipli
Kepala BPS Jatim Zulkipli

RADAR SURABAYA BISNIS – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat tahun 2024 jumlah perempuan yang berstatus sebagai penganggur tercatat sekitar 386,36 ribu orang.

Perempuan yang menganggur tersebut terdiri dari 209,63 ribu orang atau 54,26 persen penganggur yang pernah memiliki pengalaman bekerja, sementara sebanyak 176,73 orang atau 45,74 persen penganggur tidak pernah bekerja dan belum memiliki pengalaman kerja.

“Kelompok penganggur yang pernah bekerja dan penganggur yang belum pernah bekerja memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Akan tetapi secara umum, kelompok penganggur yang pernah bekerja biasanya memiliki pertimbangan yang lebih banyak, misalnya pendapatan yang akan diterima atau fasilitas apa saja yang diterima dari pemberi kerja,” ujar Kepala BPS Jatim Zulkipli, Selasa (12/8/2025).

Zulkipli melanjutkan, kondisi ini dapat menyebabkan kelompok terkait memiliki waktu lebih lama dalam mendapat pekerjaan dibanding kelompok yang belum pernah bekerja.

“Kondisi ini terjadi di perkotaan maupun di pedesaan, perempuan yang mengganggur didominasi oleh pengangguran yang sudah pernah bekerja,” katanya.

Selain dari faktor internal pencari kerja, faktor lainnya yang mempengaruhi waktu tunggu untuk memperoleh pekerjaan adalah faktor ketersediaan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan karakteristik pencari pekerjaan.

Karakterisik lapangan pekerjaan yang tersedia di perkotaan tentunya berbeda dengan lapangan pekerjaan di pedesaan.

“Pengangguran perempuan di Jawa Timur memiliki pola yang sama seperti pola pengangguran secara umum. Pengangguran di daerah perkotaan cenderung memiliki proporsi yang relatif lebih besar daripada pengangguran di daerah pedesaan,” jelasnya.

Menurutnya tingkat pengangguran terbuka perempuan berpendidikan menengah atas (SMA) dan perguruan tinggi merupakan yang tertinggi dibandingkan kelompok lainnya.

Biasanya kelompok lulusan SMA sederajat ini tidak menemukan pekerjaan karena adanya ketidaksesuaian kualifikasi tenaga kerja yang dipersyaratkan oleh perusahaan, misalnya terkait pengalaman kerja.

“Sedangkan kelompok perguruan tinggi merupakan kelompok pengangguran tertinggi ketiga setelah SMA pada perempuan karena lulusan perguruan tinggi cenderung memilih pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya, sehingga membutuhkan waktu yang cukup untuk benar-benar mendapatkan pekerjaannya yang kemudian mengakibatkan pengangguran,” pungkasnya. (mus/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#Zulkipli #jawa timur #sma #perguruan tinggi #pengangguran #terbuka #BPS Jawa Timur #sederajat #lapangan pekerjaan