RADAR SURABAYA BISNIS - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat neraca perdagangan Jatim alami defisit USD 160,36 juta di semester I/2025
Defisit neraca perdagangan Jatim disebabkan nilai impor lebih tinggi dibandingkan nilai ekspornya.
"Tercatat bahwa nilai impor Jawa Timur pada Januari-Juni mencapai USD 14,23 miliar, sedangkan nilai ekspornya mencapai USD 14,07 miliar," ujar Kepala BPS Jawa Timur, Zulkifli, Minggu (3/8/2025).
Secara lebih detail, defisit neraca perdagangan Jatim Januari-Juni 2025 (semester I/2025) disebabkan oleh kinerja perdagangan sektor migas yang mengalami defisit.
Defisit perdagangan pada sektor migas mencapai USD 2,05 miliar.
Sementara itu kinerja sektor nonmigas masih mengalami surplus sebesar USD 1,89 miliar, dimana nilai ekspornya sebesar USD 13,77 miliar lebih tinggi dibandingkan nilai impornya sebesar USS 11,87 miliar.
"Secara umum, kinerja sektor migas perlu diperbaiki agar neraca perdagangan Jawa Timur dapat berubah menjadi surplus," katanya.
Zulkipli mengatakan nilai ekspor Jawa Timur Januari-Juni 2025 senilai USD 14,07 miliar atau naik 15,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Sejalan dengan total ekspor, nilai ekspor nonmigas yang mencapai USD 13,77 miliar juga mengalami peningkatan sebesar 17,95 persen.
"Nilai ekspor Jawa Timur Juni 2025 mencapai USD 2,83 miliar atau naik 49,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Nilai ekspor nonmigas Juni 2025 mencapai USD 2,77 miliar juga naik 56,59 persen dibandingkan Juni 2024," papar Zulkipli.
Dari 10 komoditas dengan nilai ekspor nonmigas terbesar Januari-Juni, komoditas yang mengalami peningkatan terbesar adalah kakao dan olahannya meningkat sebesar USD 220,55 juta (89,50 persen) dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Sementara komoditas yang mengalami penurunan terbesar adalah bahan kimia organik dimana mengalami penurunan sebesar USD 32,45 juta (5,83 persen) dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
"Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari-Juni 2025 mencapai USD 13,04 miliar naik 17,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Ekspor nonmigas hasil pertanian juga mengalami peningkatan sebesar 39,19 persen. Sementara itu, ekspor hasil pertambangan dan lainnya turun 26,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024," terangnya.
Menurut Zulkipli untuk nilai impor Jawa Timur Januari-Juni 2025 senilai USD 14,23 miliar atau turun 0,85 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Sejalan dengan total impor, nilai impor migas yang mencapai USD 2,35 miliar juga mengalami penurunan sebesar 34,03 persen.
Sementara itu impor nonmigas mencapai USD 11,87 miliar atau naik 10,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Nilai impor Jawa Timur Juni 2025 mencapai USD 2,25 miliar atau naik 1,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Nilai impor migas Juni 2025 mencapai USD 303,46 juta juga turun 47,98 persen dibandingkan Juni 2024.
Sementara itu impor nonmigas Juni sebesar USS 1,94 miliar atau naik 18,84 persen dibandingkan Juni 2024.
"Dari 10 komoditas dengan nilai impor nonmigas terbesar Januari-Juni 2025,
komoditas yang mengalami peningkatan terbesar adalah perhiasan/permata meningkat USD 623,62 juta (naik 209,34 persen) dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sementara yang mengalami penurunan terbesar adalah serealia turun mencapai USD 608,83 juta (turun 53,40 persen) dibandingkan periode yang sama tahun 2024," terangnya.
Menurut golongan penggunaan barang, impor bahan baku/penolong selama Januari-Juni 2025 mencapai USD 11,56 miliar turun 1,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Sementara itu, impor barang modal mencapai USD 1,11 miliar naik 20,91 persen dan impor bahan konsumsi mencapai USD 1,56 miliar turun 6,44 persen dan dibandingkan periode yang sama tahun 2024. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa