Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Pemerintah Siapkan Fasilitas Pembiayaan untuk Industri Padat Karya untuk Ungkit Pertumbuhan Ekonomi Semester II/2025

Nofilawati Anisa • Minggu, 3 Agustus 2025 | 19:26 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

RADAR SURABAYA BISNIS - Purchasing Manufacturing Index (PMI) Manufaktur di bulan Juli 2025 tercatat masih bertahan di zona kontraksi, meskipun mengalami kenaikan menjadi 49,2 dari sebelumnya 46,9 di Juni 2025.

Untuk itu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyiapkan sejumlah paket stimulus pada semester II/2025 guna mendongkrak sektor manufaktur nasional.

Direktur Jenderal (Dirjen) Strategi Ekonomi dan Fiskal, Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan, kebijakan yang ditempuh meliputi fasilitas pembiayaan bagi industri padat karya, optimalisasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), serta percepatan deregulasi untuk memperbaiki iklim usaha.

"Respons kebijakan terkait perdagangan global disiapkan, mengantisipasi munculnya berbagai risiko tekanan. Implementasi kebijakan yang tepat sasaran diyakini mampu menjaga stabilitas produksi, memperkuat daya saing ekspor, serta mendukung kesinambungan pemulihan dan ketahanan ekonomi nasional," kata Febrio, Minggu (3/8/2025).

Sebagai perbandingan, Febrio menyebut PMI manufaktur di beberapa negara kawasan Asia pun masih mengalami pelemahan.

PMI Manufaktur Jepang kembali terkontraksi dengan indeks turun ke level 48,9 (Juni: 50,1), sementara Korea Selatan terkontraksi lebih dalam ke level 48,0 (Juni: 48,7).

"Perkembangan ini mencerminkan tantangan pemulihan sektor manufaktur global masih berlangsung. Bagi Indonesia, penurunan tarif AS atas produk ekspor Indonesia meredakan risiko tekanan bagi sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur," imbuhnya.

Febrio menjelaskan, dari sisi harga, inflasi Indonesia di bulan Juli 2025 sebesar 2,37 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 1,87 persen (yoy).

Kenaikan ini dipengaruhi peningkatan harga pada beberapa komoditas pangan seperti beras, bawang merah, tomat, dan cabai rawit yang disebabkan penurunan produksi akibat gangguan cuaca dan berakhirnya masa panen.

“Inflasi komponen Administered Price (AP) tercatat 1,32 persen (yoy), stabil dari bulan sebelumnya, didukung harga energi nasional yang terjaga terutama energi bersubsidi,” jelasnya.

Di sisi lain, lanjut Febrio, inflasi komponen inti melambat terbatas ke level 2,32 persen (yoy).

Hal ini dipengaruhi melambatnya inflasi kelompok perawatan pribadi, rekreasi, dan penyediaan jasa makanan minuman.

“Sementara itu, inflasi kelompok pendidikan naik seiring masuknya tahun ajaran baru,” ujarnya.

Sementara dari sektor eksternal, kinerja ekspor terus memberikan dukungan positif terhadap perekonomian.

Neraca Perdagangan Indonesia tetap solid dengan mencatatkan surplus sebesar USD 4,10 miliar pada Juni 2025.

“Kinerja positif ini didukung oleh ekspor yang tumbuh sebesar 11,29 persen (yoy), didorong sektor industri pengolahan dan pertanian. Sementara impor tumbuh moderat sebesar 4,28 persen (yoy), terutama pada barang modal seiring perbaikan kinerja manufaktur nasional,” jelasnya.

Ditambahkan Febrio, ke depan, peluang ekspor Indonesia ke pasar AS tetap terbuka.

Terutama dengan penandatanganan Executive Order oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 31 Juli 2025, yang menurunkan tarif resiprokal untuk Indonesia menjadi 19 persen.

Sejumlah produk juga dikecualikan dan barang yang telah dalam pengiriman sebelum tanggal berlaku tidak terdampak.

Kebijakan ini membuka ruang bagi penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global melalui produk bernilai tambah dan perluasan akses pasar.

"Pemerintah terus mengantisipasi dengan langkah terukur untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik. Seluruh kebijakan dirancang agar aktivitas dunia usaha nasional tetap tangguh menghadapi guncangan global, dengan daya saing ekspor yang terus meningkat, disertai daya beli masyarakat yang tetap terjaga," tutur Febrio. (uta/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#manufaktur #padat karya #Tarif Bagasi Kardus #pmi #neraca perdagangan #inflasi #industri #alas kaki #kontraksi #donald trump #zona #Purchasing #tekstil