Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Ketua Apindo Shinta Kamdani Sebut Produktivitas Tenaga Kerja Indonesia Termasuk Terendah di ASEAN

Nofilawati Anisa • Selasa, 29 Juli 2025 | 01:36 WIB
Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani
Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani

RADAR SURABAYA BISNIS - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, mengungkapkan fakta yang cukup memprihatinkan mengenai tenaga kerja (naker) indonesia.

Shinta menyebut rendahnya produktivitas tenaga kerja (naker) di Indonesia yang masih tertinggal dibanding negara-negara tetangga di ASEAN.

“Dari sisi produktivitas, (tenaga kerja, Red) Indonesia termasuk salah satu yang masih paling rendah di ASEAN,” kata Shinta dalam acara BPJS Ketenagakerjaan Dewas Menyapa Indonesia, di Jakarta dilansir dari laman liputan6, Senin (28/7/2025).

Dalam paparannya, Shinta menyebut bahwa produktivitas tenaga kerja Indonesia hanya mencapai USD 23,57 ribu per pekerja. Angka tersebut di bawah rata-rata tenaga kerja di ASEAN yang mencapai USD 24,27 ribu.

“Sebagian besar pekerjaan merupakan pekerja dengan keterampilan rendah, dan produktivitas Indonesia hanya USD 23,57 dibandingkan dari rata-rata ASEAN yang USD 24,27 ribu per tenaga kerja,” ungkapnya.

Sebagian besar tenaga kerja Indonesia, menurut Shinta, masih berada pada kategori keterampilan rendah.

Padahal, persaingan ekonomi di kawasan saat ini menuntut produktivitas tinggi yang didorong oleh tenaga kerja terampil dan terdidik.

Menurut Shinta, transformasi industri yang bergerak cepat ke arah otomatisasi dan digitalisasi menjadi tantangan tersendiri bagi dunia kerja Indonesia.

“Transformasi industri saat ini bergerak ke arah otomatisasi dan digitalisasi, juga belum bisa diimbangi dengan peningkatan keterampilan tenaga kerja,” ujarnya.

Dalam menghadapi tantangan globalisasi dan perubahan teknologi yang cepat, Shinta mendorong agar peningkatan literasi digital dan program vokasi menjadi prioritas utama.

Tanpa peningkatan keterampilan dan pemahaman teknologi, tenaga kerja Indonesia akan sulit bersaing di pasar kerja masa depan. Ia menyebut bahwa reformasi sistem pendidikan dan pelatihan kerja perlu diarahkan pada kebutuhan industri secara nyata.

“Literasi digital, vocational upscaling, dan ekosistem pendidikan yang responsif terhadap industri harus menjadi agenda bersama,” ujarnya.
Shinta Kamdani mengingatkan bahwa dalam peta persaingan global, Indonesia bukan satu-satunya negara yang ingin menarik investasi dan menciptakan pertumbuhan.

Jika Indonesia tidak segera memperbaiki kualitas tenaga kerja, bukan hanya tertinggal, tapi bisa kehilangan relevansi dalam peta rantai pasok global.

“Saya mau garis bawahi “kompetisi dan daya saing”, karena kita bukannya satu-satunya negara di dunia Bapak-Ibu. Oleh karena kita harus melihat apa yang terjadi di sekeliling kita,” pungkas Shinta. (uta/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#apindo #keterampilan #produktivitas #tenaga kerja #shinta kamdani #Ketua Umum #asean