Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Pemerintah Pacu Belanja Negara untuk Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Semester II/2025

Nofilawati Anisa • Jumat, 25 Juli 2025 | 01:00 WIB
ILUSTRASI: Aktivitas perdagangan luar negeri atau ekspor impor yang menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi nasional.
ILUSTRASI: Aktivitas perdagangan luar negeri atau ekspor impor yang menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi nasional.

RADAR SURABAYA BISNIS – Berbagai strategis ekonomi dilakukan pemerintah agar perekonomian nasional di 2025 ini tetap berjalan sesuai koridor, di tengah perlambatan ekonomi global.

Pemerintah akan menggenjot belanja negara pada semester II/2025 agar pertumbuhan ekonomi bisa kembali berada dalam target 5,2 persen.

“Pemerintah mempercepat belanja, karena banyak program prioritas Pak Presiden (Prabowo Subianto) yang harus kami percepat semua. Jadi itu nanti akan mendukung rebound untuk semester II/2025,” ucap Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (24/7/2025).

Ia menjelaskan, salah satu konsekuensi percepatan belanja negara adalah pelebaran defisit pada akhir tahun 2025 ini.

Pada semester I/2025 APBN telah mengalami defisit sebesar Rp 204,24 triliun.

Pemerintah memperkirakan defisit APBN 2025 akan melebar menjadi Rp 662 triliun dari target sebelumnya yang sebesar Rp 616,2 triliun.

Jika dilihat dari perbandingan defisit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) maka terjadi kenaikan dari 2,53 persen dari PDB menjadi 2,78 persen dari PDB.

“Outlook defisit APBN adalah 2,87 persen dari PDB, ini akan melibatkan masih banyak sekali belanja pemerintah yang harus dieksekusi dengan lebih cepat,” terang Febrio.

Namun demikian, belanja negara ini dimaksudkan untuk berperan lebih mendorong perekonomian nasional pada semester II/2025.

Ini akan didukung output dari hasil negosiasi perdagangan Indonesia-Amerika Serikat (AS).

Dengan adanya perubahan penetapan tarif bea masuk dari 32 persen ke 19 persen, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat dipercaya akan semakin meningkat.

Besaran tarif ini akan meningkatkan daya saing produk Indonesia karena lebih rendah dari negara-negara lain di ASEAN.

“Kalau tadinya kita sudah terancam dengan pertumbuhan yang cukup lemah di 4,7 persen. Dengan tarif yang lebih baik ini kita melihat pertumbuhan ekonomi bisa rebound di atas 5 persen untuk paruh kedua,” tutur Febrio.

Koordinator Analis Laboratorium Indonesia 45, Reyhan Noor mengatakan, belanja pemerintah memiliki peranan besar terhadap geliat pertumbuhan ekonomi domestik.

Hal ini terlihat langsung saat pemerintah menjalankan efisiensi anggaran belanja, maka pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 4,87 persen pada kuartal I/2025.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) konsumsi pemerintah mengalami kontraksi 1,38 persen pada kuartal I/2025.

Konsumsi pemerintah memberikan kontribusi 5,88 persen ke pertumbuhan ekonomi kuartal I/2025.

“Belanja pemerintah sangat penting untuk mendukung pertumbuhan seperti yang terlihat kurang optimalnya pertumbuhan pada kuartal pertama kemarin akibat efisiensi,” kata Reyhan.

Menurut dia, bila dilihat secara siklus serapan anggaran cenderung meningkat pada semester kedua.

Dalam meningkatkan serapan tersebut, salah satu program yang diperhatikan adalah pelaksanaan program strategis nasional seperti makan bergizi gratis (MBG).

“Potensi MBG terhadap pertumbuhan ekonomi sangat besar sehingga dengan serapan anggaran yang baik diharapkan mampu memacu pertumbuhan,” terang Reyhan.

Reyhan mendorong serapan belanja harus dioptimalkan betul dan jangan sampai ada sisa anggaran terlalu besar.

Besarnya sisa anggaran menandakan perencanaan dan implementasi tidak optimal.

“Padahal pemerintah sudah menerbitkan utang dan membayar bunganya untuk membiayai rencana belanja tersebut,” pungkasnya. (inv/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#ekonomi #outlook #rebound #pertumbuhan #strategi #Semester II #pdb #perlambatan #belanja negara #defisit