Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Lebihi Target, Serapan Beras Bulog Jatim Capai 614.000 Ton

Mus Purmadani • Rabu, 9 Juli 2025 | 14:34 WIB

 

JEMPUT BOLA: Target penyerapan beras di Jatim hingga Juli sudah tercapai 614.000 ton dengan HPP Rp 6.500 per kg GKP, sedangkan HPP beras medium Rp 12.000 per kg.
JEMPUT BOLA: Target penyerapan beras di Jatim hingga Juli sudah tercapai 614.000 ton dengan HPP Rp 6.500 per kg GKP, sedangkan HPP beras medium Rp 12.000 per kg.

RADAR SURABAYA BISNIS – Penyerapan beras Bulog Jatim hingga 4 Juli 2025 sebanyak 614.000 ton. Jumlah itu sudah melebihi target yang dibebankan, yaitu 593.000 ton setara beras.

Pemimpin Wilayah Bulog Jatim Langgeng Wisnu Adinugroho menjelaskan, target yang dibebankan sudah terpenuhi pada akhir Mei 2025.

Lalu, kantor pusat memberi tambahan target menjadi 609.000 sekian ton.

“Target itu hingga Juli juga sudah tercapai 614.000 ton dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 6.500 per kilogram per Gabah Kering Panen (GKP) sedangkan HPP beras medium Rp 12.000 per kilogram,” kata Langgeng, Selasa (8/7/2025).

Ia menjelaskan, untuk cadangan pangan pemerintah, Bulog menggunakan beras kualitas medium.

Dengan kualifikasi rusak atau butir patah maksimal 25 persen, butir menir maksimal 2 persen, kadar air maksimal 14 persen.

“Kalau untuk derajat sosoh minimal 95 persen,” sambungnya.

Langgeng mengatakan seluruh gudang Bulog di Jawa Timur dalam kondisi penuh.

Sehingga Lanjut Langgeng, mengharuskan menyewa 56 unit gudang untuk tempat penyimpanan.

“Meski stok melimpah, Bulog Jatim masih membuka ruang serapan bagi petani yang ingin menjual gabah nya ke Bulog hingga seluruh target terpenuhi,” katanya.

"Tapi bulan Juli ada perintah dari Bapanas untuk mengalokasikan bantuan pangan, sehingga akan sedikit mengurangi di gudang. Alokasi Jatim untuk bantuan pangan ini 60.963 per ton beras. Kita menunggu data dari pusat, BNBA (By Name By Address)," imbuhnya.

Lebih lanjut Langgeng mengatakan HPP Rp 6.500 membuat petani senang, tetapi membuat tengkulak pusing karena serapannya ke Bulog semua.

“Dengan HPP Rp 6.500. kami mendapatkan informasi pendapatan petani naik 60-80 persen,” jelasnya.

Meski demikian Langgeng mengaku mendapat kendala dalam melakukan penyerapan.

Menurutnya kebijakan menyerap gabah petani dengan HPP Rp 6.500 ini disambut antusias oleh petani, sedangkan untuk pasca panen masih terbatas.

“Kementerian Pertanian melalui pompanisasi, irigasi dan penyaluran pupuk membuat hasil produksi meningkat signifikan, namun pasca panen kurang memadai. Karena padi setelah dipanen 24 jam harus segera diolah minimal dikeringkan,” katanya.

“Sedikit ada masalah, sebenarnya di seluruh Jatim kita bekerja sama dengan 600-an mitra maklon untuk pengeringan, hanya kapasitasnya terbatas. Sedangkan panennya luar biasa apalagi April dan petani inginnya yang penting Bulog harus serap. Sehingga kita melakukan penjadwalan panen, untuk menyiasati ini,” imbuhnya.

Menurut Langgeng, hampir semua permintaan kelompok tani yang sangat mendesak adalah alat pasca panen (alat pengering).

Selain itu Bulog memastikan semua gabah kering yang dibeli sesuai, dan dibayar tunai di lapangan.

Selain perlindungan harga, pendekatan ini dinilai berhasil menumbuhkan kepercayaan petani terhadap pemerintah.

"Kami juga mengedepankan mekanisme jemput bola, tidak menunggu di gudang. Jadi begitu petani panen, tim langsung datang. Kami juga terus menyosialisasikan penerapan cashless. Karena ketika kami juga khawatir ketika melakukan penyerapan beras menggunakan uang tunai, sehingga kami meminta pengawalan pihak kepolisian. Kalau menggunakan cashless kan enak, kami kerjasama dengan bank dalam hal ini," tutupnya. (mus/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#butir patah #Langgeng Wisnu #Penyerapan Beras 2025 #setara beras #medium #hpp #gabah kering panen #Bulog Jatim #kualitas #Alokasi