RADAR SURABAYA BISNIS – Kata kampung dalam bahasa Indonesia bisa merujuk pada beberapa hal.
Tetapi yang paling umum adalah sekelompok rumah atau bangunan yang menjadi tempat tinggal sekelompok keluarga.
Kampung biasanya ada di daerah perkotaan atau pedesaan.
Dalam konteks perkotaan, kampung seringkali merujuk pada permukiman padat penduduk, mungkin memiliki kondisi tertentu, baik dari segi sosial maupun lingkungan.
Kampung di kota seringkali dikaitkan dengan kondisi sebuah kawasan yang memiliki tantangan lingkungan.
Di Surabaya, istilah kampung juga sudah lazim terdengar.
Sebab di Surabaya ini sudah ada beberapa kampung tematik, seperti kampung lontong, kampung hidroponik, kampung Lawas Maspati dan lain-lainnya.
Berkaitan dengan kampung-kampung yang sudah ada di Surabaya, Pemerintah Kota (Pemerintah) Surabaya meluncurkan gebrakan baru melalui pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Kampung Pancasila.
Sebuah gerakan sosial yang melibatkan seluruh elemen masyarakat hingga ke level RT dan RW.
Satgas ini diharapkan menjadi motor penggerak agar setiap kampung di Surabaya tumbuh menjadi lingkungan mandiri, aman, dan sejahtera.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan, pembentukan Satgas Kampung Pancasila ini bukan sekadar menambah struktur baru.
Melainkan langkah nyata melahirkan kampung-kampung berbasis RW yang kuat secara sosial, ekonomi, dan lingkungan.
“Kampung Madani yang sudah berjalan, kita sempurnakan dengan Satgas Kampung Pancasila agar setiap wilayah mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri. Mulai dari keamanan, kesehatan, pendidikan, hingga ketahanan ekonomi,” ujar Eri, Senin (7/7/2025).
Cak Eri menekankan, kekuatan utama Satgas ini ada pada partisipasi aktif masyarakat. Tidak hanya mengandalkan pemerintah, gerakan ini melibatkan RT, RW, Kader Surabaya Hebat (KSH), komunitas, perguruan tinggi, hingga tokoh agama dan masyarakat.
“Ini bukan program top-down. Ini gerakan kolektif. Kita bangun kampung yang tidak hanya aman dan nyaman, tapi juga ramah anak, sehat, dan tangguh terhadap bencana,” tegasnya.
Di tingkat kota, Satgas Kampung Pancasila dipimpin Kepala BPBD Surabaya, dengan empat bidang kerja: Lingkungan, Kemasyarakatan, Ekonomi, dan Sosial Budaya.
Di tingkat kecamatan dan kelurahan, Ketua RW menjadi ujung tombak, dibantu perangkat wilayah serta satgas lokal.
Empat Kelompok Kerja (Pokja) yang dibentuk di setiap RW memiliki peran strategis yang menyentuh seluruh aspek kehidupan warga.
Keempatnya itu adalah, pokja lingkungan yang berfokus pada pengurangan sampah, urban farming, pemberantasan sarang nyamuk, hingga program sanitasi dan lingkungan bersih.
Kemudian ada pokja kemasyarakatan yang fokus pada menghidupkan kembali Siskamling, mitigasi bencana, pencegahan narkoba, edukasi administrasi kependudukan, hingga sosialisasi jam malam anak.
Lalu ada pokja ekonomi untuk memberdayakan UMKM, mendata warga usia produktif, serta mendorong pelatihan keterampilan dan ketahanan pangan lokal.
Dan yang terakhir pokja sosial budaya untuk mengawal kesehatan ibu dan anak, mendeteksi TBC, mendorong program PUSPAGA, serta menangani persoalan sosial seperti anak putus sekolah, kekerasan dalam rumah tangga, hingga perbaikan rumah tidak layak huni.
Eri percaya, hanya dengan memberdayakan komunitas lokal, Surabaya bisa benar-benar mandiri dan berdaya. Bukan hanya soal pembangunan fisik, tapi membangun karakter masyarakat yang saling peduli dan berdaya saing.
“Setiap RW harus jadi kekuatan sosial, kekuatan ekonomi, dan kekuatan kemanusiaan. Kita ingin Surabaya bukan hanya kota besar, tapi juga kota yang ramah, adil, dan tangguh,” pungkasnya. (dim/opi)
Editor : Nofilawati Anisa