RADAR SURABAYA BISNIS - Indonesia dengan kekayaan wastra dan tradisi tekstilnya memiliki potensi untuk menjadi pelaku utama dalam pengembangan industri fesyen.
Industri fesyen tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berkelanjutan dan bermakna secara sosial.
Oleh karena itu, konsep slow fashion hadir di tengah tantangan isu lingkungan di industri fesyen saat ini.
“Konsep slow fashion menekankan pada kualitas, etika, dan berkelanjutan dalam proses produksinya, serta selaras dengan semangat wastra nusantara yang menjunjung nilai-nilai kearifan lokal dan kreativitas,” jelasnya.
Reni juga menekankan pentingnya transformasi wastra dan industri fesyen menuju arah yang lebih berkelanjutan.
Sebab, industri fesyen global merupakan salah satu sektor yang dapat menyumbang emisi karbon besar, dengan penggunaan sumber daya yang sangat tinggi.
Hal ini yang menjadikan masyarakat global mulai sadar akan pentingnya keberlanjutan dalam industri fesyen.
Termasuk bagi pelaku IKM nasional harus lebih adaptif terhadap tuntutan keberlanjutan tanpa meninggalkan akar budaya.
“Industri wastra dapat memanfaatkan tren dengan naiknya kesadaran konsumen terhadap lingkungan, untuk memperkuat posisinya dengan menghadirkan slow fashion yang berkelanjutan sekaligus menjawab kebutuhan pasar akan produk yang memiliki makna dan value tinggi,serta ramah lingkungan,” tuturnya.
Lebih lanjut Reni menyampaikan, berdasarkan survei yang dilakukan Jakpat tahun 2022, Generasi Z menunjukkan ketertarikan pada produk fesyen vintage, retro, dan circular fashion yang sejalan dengan nilai keberlanjutan.
“Hal ini mencerminkan peluang besar bagi pelaku IKM fesyen untuk mengembangkan produk-produk yang tidak hanya menarik dari estetika, tetapi juga relevan secara etika dan ekologis,” imbuhnya.
Editor : Nofilawati Anisa