Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Bangun Kepercayaan Bahwa Perawatan Jantung Kelas Dunia Bisa Didapatkan Tanpa Harus ke Luar Negeri, Heortology Sudah Tangani 7.000 Pasien sejak 2021

Nofilawati Anisa • Jumat, 27 Juni 2025 | 19:19 WIB
FOKUS: dr. Ridwan Tjahjadi Lembong, M.M., M.MRS., MBA, President Director Heartology Cardiovascular Hospital menjelaskan mengenai kelengkapan technology yang dipunyai rumah sakit.
FOKUS: dr. Ridwan Tjahjadi Lembong, M.M., M.MRS., MBA, President Director Heartology Cardiovascular Hospital menjelaskan mengenai kelengkapan technology yang dipunyai rumah sakit.

RADAR SURABAYA BISNIS - Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab utama kematian di Indonesia. 

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menyebutkan, prevalensi penyakit jantung meningkat dari 0,5 persen pada tahun 2013 menjadi 1,5 persen pada tahun 2018.

Data yang sama juga menyebutkan bahwa jantung koroner menjadi salah satu jenis penyakit jantung yang paling banyak diderita.

Selanjutnya diikuti oleh penyakit jantung bawaan, kelainan katup jantung, dan gagal jantung.

Dalam periode Januari hingga Mei 2025, Heartology Cardiovascular Hospital telah mencatat lebih dari 450 tindakan kardiovaskular, mencakup kasus intervensi, aritmia, kelainan struktural, dan bedah jantung mayor.

Sejumlah kasus kompleks dan tindakan pertama di Indonesia juga berhasil dilakukan di rumah sakit khusus jantung ini.

“Pencapaian ini bukan sekadar jumlah, tetapi representasi dari sistem layanan jantung yang komprehensif, tepat guna, dan ditopang oleh teknologi medis yang mutakhir,” ungkap dr. Ridwan Tjahjadi Lembong, MM, MMRS, MBA, President Director Heartology Cardiovascular Hospital di Surabaya, Rabu (25/6).

Dokter (dr) Ridwan menjelaskan, di Heartology Cardiovascular Hospital, jumlah kasus menyakit jantung koroner mendominasi.

Sekitar 50 persen kasus yang ditangani di rumah sakit tersebut, 50 persennya adalah jantung koroner.

“Rumah sakit kita didesain untuk melakukan tindakan cepat dan akurat. Hari ini datang, kita lakukan tindakan, besok pasien sudah bisa pulang. Sesedikit mungkin di rumah sakit,” ungkapnya.

Sejak beroperasi tahun 2021 hingga saat ini sudah sekitar 7.000 pasien yang ditangani Heartology Cardiovascular Hospital.

Dr. Ridwan menyebut pasien masih didominasi dari kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).

Sekitar 40 persen painnya adalah pasien yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. “Termasuk pasien dari Surabaya, juga cukup banyak yang datang ke tempat kami,” sambungnya.

Dr. Ridwan menjelaskan, dalam penegakan diagnosis, Heartology mengandalkan dua teknologi kunci yaitu CT Scan 512-slice dan 4D Echocardiography.

Teknologi CT Scan 512-slice memungkinkan visualisasi pembuluh darah koroner dan aorta secara sangat detail, dengan kecepatan tinggi dan dosis radiasi yang lebih rendah.

“Ini menjadikannya alat unggulan dalam deteksi dini penyempitan, kalsifikasi, hingga aneurisma,” jelasnya.

Sementara itu, 4D Echocardiography memungkinkan pemetaan katup jantung secara real-time dalam dimensi spasial.

Teknologi ini sangat krusial dalam evaluasi kelainan struktural seperti kebocoran katup, stenosis, serta untuk perencanaan tindakan seperti TAVI atau MitraClip.

“Dengan dua teknologi ini, kami dapat menegakkan diagnosis dengan presisi tinggi, bahkan sebelum pasien merasakan gejala berat. Ini adalah ‘mata’ utama kami dalam merancang keputusan klinis yang akurat dan aman,” jelas dr. Ridwan.

Lebih jauh ia menjelaskan, untuk tindakan invasif, Heartology menggunakan pendekatan berbasis teknologi presisi tinggi seperti Intravascular Lithotripsy (IVL) untuk kasus kalsifikasi berat, Pulsed Field Ablation (PFA) untuk aritmia kompleks, serta tindakan Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI) dan MitraClip bagi pasien dengan risiko bedah tinggi.

“Penanganan kasus lainnya yang juga rutin kita lakukan adalah kasus-kasus di bidang Aorta, termasuk di dalamnya adalah pelaksanaan prosedur kompleks seperti Bentall, Mitral Valve Replacement (MVR), hingga Double Valve Replacement (DVR), menjadikan rumah sakit ini sebagai salah satu rujukan nasional untuk tindakan jantung besar yang berisiko tinggi,” bebernya.

Pelaksanaannya, kata dia, dilakukan secara terstruktur, dengan dukungan tim bedah jantung, perfusionist, ICU jantung, hingga rehabilitasi kardiovaskular pasca operasi.

Dr Ridwan mengungkapkan, Heartology memang tidak berdiri sebagai rumah sakit umum.

Sejak awal, rumah sakit ini dibangun dengan satu fokus yaitu jantung dan pembuluh darah, dari hulu ke hilir.

“Ada enam subspesialisasi yang tersedia, termasuk interventional cardiology center, arrhythmia & device center, structural heart center, aortic center, heart, lung & vascular center, serta cardiac diagnostic center,” ungkapnya.

Ditambahkan dr. Ridwan, salah satu misi Heartology sejak awal adalah menyudahi ketergantungan pasien Indonesia terhadap rumah sakit luar negeri untuk masalah jantung.

Melalui teknologi, tim, dan sistem pelayanan yang modern, Heartology ingin membangun kepercayaan bahwa perawatan jantung kelas dunia bisa didapatkan tanpa harus meninggalkan tanah air.

Kini, Heartology telah menjadi rumah sakit rujukan bagi pasien dari berbagai daerah termasuk yang sebelumnya berencana melakukan tindakan di luar negeri, namun kemudian memutuskan untuk dirawat di Jakarta.

“Kami tidak hanya menawarkan layanan, tapi juga perasaan tenang dan lega. Bahwa pasien tidak perlu lagi bingung mencari jawaban atau melakukan tindakan terkait kardiovaskular di negara lain. Di sini, mereka bisa mendapatkan penanganan dengan komprehensif, efektif, dan efisien juga bahkan lebih,” pungkas dr. Ridwan. (net/opi)

 

 

 

Editor : Nofilawati Anisa
#jantung #penyakit #kematian #pasien #gagal jantung #kasus #luar negeri #koroner #rumah sakit #kesehatan #Heartology Cardiovascular Hospital