Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

UMKM Kopi Perkuat Ketahanan Pangan dan Ekonomi Jatim

Mus Purmadani • Selasa, 24 Juni 2025 | 03:59 WIB

 

PAIRING COFFEE: Kopi sekarang ini bukan sekadar komoditas, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.
PAIRING COFFEE: Kopi sekarang ini bukan sekadar komoditas, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

RADAR SURABAYA BISNIS – Bisnis kopi di Indonesia, termasuk Jawa Timur, berkembang pesat dalam lima tahun terakhir.

Kopi bukan sekadar komoditas, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Dewan Pakar Himpunan Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (Hipmikimdo) Jawa Timur Heri Cahyo Bagus Setiawan kepada Radar Surabaya, Senin (23/6).

"Penjualan kopi secara umum positif, baik di pasar lokal maupun global. Terutama di kalangan anak muda. Pada saat yang sama, permintaan untuk kopi specialty dari Indonesia seperti gayo toraja, dan kintamani di pasar internasional juga terus tumbus. Tak terkecuali juga di Jawa Timur," katanya.

Menurut Heri, pada tingkat petani, sekarang sudah banyak yang mulai memahami pentingnya kualitas pasca-panen dari traceability.

"Dukungan pelatihan dan akses pasar juga makin terbuka," ujarnya.

Sementara itu dari sisi hilir, lanjut Heri, menjamurnya warung kopi di berbagai kota dan daerah di Jawa Timur menjadi bukti nyata bahwa kopi telah menjadi ruang sosial baru.

“Yang artinya kopi tidak hanya dinikmati karena rasa (taste), tapi juga karena suasana. Kedai kopi menjadi tempat orang bekerja, bertemu bahkan membangun komunitas," imbuhnya.

Heri menjelaskan, Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat kekuatan UMKM kopi nasional.

Diketahui wilayah penghasil kopi yang kuat di Jawa Timur adalah Bondowoso, Jember, Malang, dan Banyuwangi.

Ditambah dengan jejaring UMKM yang kuat membuat kopi produksi Jawa Timur semakin diperhitungkan.

"Tapi potensi ini perlu didorong dengan strategi yang tepat agar dampaknya terasa secara nasional," tegasnya.

"Kita perlu fasilitasi pelatihan untuk petani dan pelaku UMKM kopi, akses pembiayaan, serta teknologi pasca-panen seperti roasting, packaging, dan digital marketing. Kalau ini diperkuat, UMKM Jawa Timur bisa menjadi pemasok kopi berkualitas sekaligus pemasar produk siap konsumsi," imbuh Heri.

Heri mengatakan dengan pengembangan ekowisata berbasis kopi seperti yang mulai tumbuh di Ijen dan Lereng Raung, UMKM bisa menyatu dalam ekosistem yang mengangkat nilai tambah.

“Kita tidak hanya jual biji kopi, tapi juga cerita, pengalaman, dan warisan budaya lokal," katanya.

"Pemerintah daerah, asosiasi, pelaku bisnis, dan lembaga keuangan perlu duduk bersama untuk membangun ekosistem UMKM kopi yang terintegrasi. Dengan demikian, UMKM di Jawa Timur tidak hanya jadi penggerak ekonomi daerah, tapi juga kontributor signifikan dalam ekspor kopi nasional dan pertumbuhan ekonomi kreatif," jelas Heri.

Menurutnya UMKM kopi berpotensi menciptakan ribuan lapangan kerja baru, memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi lokal, serta membuka peluang ekspor nonmigas berbasis produk jadi.

“Kalau ini berhasil, bukan mustahil Jawa Timur bisa jadi simpul utama perekonomian kopi nasional yang berbasis kerakyatan," pungkasnya. (mus/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#penjualan #jawa timur #lokal #jatim #kopi #komoditas #komunitas #umkm #Hipmikimdo #global