RADAR SURABAYA BISNIS - Pupuk memiliki peran vital dalam mendongkrak produktivitas sektor pertanian, dengan kontribusi mencapai 62 persen.
Melihat besarnya peran tersebut, PT Pupuk Indonesia (Persero) sebagai pelaksana kebijakan pupuk bersubsidi berkomitmen penuh untuk menjamin availability (ketersediaan) dan affordability (keterjangkauan) harga pupuk.
Hal ini sejalan dengan misi Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita untuk mencapai swasembada pangan nasional.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengungkapkan, perusahaan saat ini memiliki kapasitas produksi hingga 14,5 juta ton pupuk per tahun.
Sementara alokasi pupuk bersubsidi dari pemerintah untuk tahun 2025 ditetapkan sebesar 9,55 juta ton.
“Kalau ngomong availability kita aman, kita hingga bulan Mei 2025 sudah menyalurkan lebih dari 3 juta ton, dari alokasi 9,5 juta ton,” ungkap Rahmad dalam keterangannya, Senin (9/6).
Lebih jauh dijelaskannya, Pupuk Indonesia masih mempunyai stok pupuk sebanyak 2 juta ton.
Rinciannya 1,4 juta ton pupuk bersubsidi dan 600 ribu ton adalah pupuk nonsubsidi.
“Stok pupuk bersubsidi saat ini telah tersebar merata di 27.000 kios resmi di seluruh Indonesia dan sudah bisa ditebus oleh para petani yang berhak, sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku,” lanjutnya.
Untuk memastikan distribusi berjalan maksimal, Rahmad menyebut jika Pupuk Indonesia memanfaatkan teknologi digital, salah satunya melalui aplikasi i-Pubers.
Dengan digitalisasi ini, petani dapat mengetahui alokasi pupuk bersubsidi milik mereka, jumlah yang telah ditebus, serta sisa kuota yang masih tersedia.
Ketika petani melakukan penebusan, data tersebut juga langsung tercatat secara real time di command center Pupuk Indonesia.
Tak hanya berupa data numerik, sistem ini juga menangkap data visual sebagai bentuk pengawasan distribusi pupuk di seluruh wilayah Indonesia.
“Kita bisa memastikan bahwa pupuk itu ada dan sudah bisa ditebus oleh petani yang berhak. Itulah salah satu peran penting menjaga availability, tidak saja di gudang-gudang pabrik, tapi juga kita pastikan seluruh stok itu sudah tersebar di seluruh wilayah melalui jaringan penjualan kita,” tegas Rahmad.
Lebih lanjut ia mengapresiasi kebijakan pemerintah dalam mendukung kelancaran distribusi melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 6 Tahun 2025.
Menurutnya, peraturan baru ini menyederhanakan birokrasi yang sebelumnya menghambat penyaluran, meskipun stok tersedia.
Rahmad menambahkan bahwa berkat kolaborasi lintas kementerian seperti Kemenko Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, Kementerian BUMN, dan lainnya, proses distribusi pupuk bersubsidi kini jauh lebih efisien.
“Mulai pukul 00.00 di tanggal 1 Januari 2025, pertama kali dalam sejarah, seluruh petani yang ada di seluruh Indonesia sudah bisa menebus pupuk bersubsidi. Sebelumnya tidak bisa karena aturannya berlapis,” jelasnya.
Rahmad mengungkap Perpres ini merupakan bukti nyata gotong royong seluruh stakeholder yang menyepakati bahwa pupuk adalah komoditas penting bagi produktivitas pertanian.
Tak hanya soal ketersediaan, Rahmad menegaskan bahwa Pupuk Indonesia juga mendukung keterjangkauan harga dengan meningkatkan efisiensi produksi.
Salah satu langkah konkret dilakukan di Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang, dengan membangun satu pabrik modern pengganti dua pabrik tua, yang diproyeksikan mampu menghemat hingga Rp 1,5 triliun per tahun.
“Bukan karena subsidi, kemudian keterjangkauan harga kita serahkan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemerintah. Tapi Pupuk Indonesia juga mempunyai tanggung jawab, pupuk yang kita produksi harus melalui proses yang lebih efisien,” pungkas Rahmad. (nis/opi)
Pupuk Indonesia Wujudkan Swasembada Pangan
*Kontribusi mencapai 62 persen
*Ditunjuk sebagai pelaksana penyaluran pupuk bersusbsidi:
1. Menjamin availability (ketersediaan) pupuk
2. Menjamin affordability (keterjangkauan) harga pupuk
*Kapasitas produksi hingga 14,5 juta ton pupuk per tahun
*Alokasi pupuk bersubsidi 2025 sebanyak 9,55 juta ton
*Hingga Mei 2025 sudah salurkan lebih dari 3 juta ton
*Stok pupuk sebanyak 2 juta ton
*Rinciannya:
1. Sebanyak 1,4 juta ton pupuk bersubsidi
2. Sebanyak 600 ribu ton pupuk nonsubsidi
*Stok pupuk bersubsidi tersebar merata di 27.000 kios resmi
*Proses distribusi:
1. Manfaatkan teknologi digital
2. Salah satunya melalui aplikasi i-Pubers
*Manfaat digitalisasi:
1. Petani dapat mengetahui alokasi pupuk bersubsidi milik mereka
2. Petani dapat mengetahui jumlah yang telah ditebus
3. Petani dapat mengetahui sisa kuota yang masih tersedia
Sumber: Diolah
Editor : Nofilawati Anisa