RADAR SURABAYA BISNIS – Harga beras di sejumlah kota/kabupaten di Jawa Timur dalam beberapa hari terakhir mengalami kenaikan.
Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur, harga beras yang naik dialami oleh jenis medium maupun premium.
Harga rata-rata-beras medium Jawa Timur adalah Rp 12.568 per kg.
Harga rata-rata tertinggi di Kota Probolinggo, Kabupaten Sidoarjo Rp 13.500.
Dan harga rata-rata terendah di Kabupaten Bangkalan Rp 11.500.
Sementara harga rata-rata beras premium Jawa Timur adalah Rp 14.667.
Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Sidoarjo Rp 16.250.
Dan harga rata-rata terendah di Kabupaten Probolinggo Rp 13.400.
Sementara itu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur mencatat produksi padi di Jatim mulai mulai Januari hingga Juni 2025 diprediksi mengalami peningkatan.
Namun fakta di lapangan menyebutkan jika harga beras justru mengalami peningkatan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Heru Suseno mengatakan produksi ini merupakan upaya mendukung program ketahanan pangan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.
Menurutnya luas panen pada Januari - Juni 2025 meningkat dibanding Januari - Juni 2024.
Jika pada Januari - Juni 2025 luas panen 1.109.332 hektare, sedangkan Januari - Juni 2024 seluas 981.221 hektare.
"Meningkat 128.111 hektare atau meningkat 13,06 persen," ujarnya, Sabtu (7/6).
Produksi padi Gabah Kering Panen (GKP) pada Januari - Juni 2024 mencapai 6.684.299 ton.
Jumlah itu meningkat pada Januari - Juni 2025 mencapai 7.529.028 ton.
Terdapat peningkatan 844.729 ton atau 12,64 persen.
"Untuk produksi padi Gabah Kering Giling (GKG) pada Januari - Juni 2024 sebanyak 5.559.415 ton. Kemudian Januari - Juni 2025 sebanyak 6.261.989 ton. Jumlah ini meningkat 702.572 ton atau 12,64 persen," jelasnya.
Produksi beras pada Januari - Juni 2024 mencapai 3.210.118 ton. Meningkat pada Januari - Juni 2025 yakni 3.615.707 ton.
"Ada peningkatan 405.679 ton atau 12,64 persen," katanya.
Heru mengatakan peningkatan produksi ini merupakan hasil program tanam yang masif dan intervensi tepat waktu.
Menurutnya tahun 2024 El Nino menyebabkan mundurnya waktu tanam hingga dua bulan dan berdampak pada luas panen.
"Selain cuaca ekstrem, penurunan produksi tahun lalu juga dipicu oleh peralihan lahan ke komoditas lain seperti tembakau, terutama di wilayah yang mengalami banyak hari tanpa hujan," jelasnya.
Sementara itu Pemimpin Perum Bulog Kanwil Jatim Langgeng Wisnu mengatakan target pengadaan setara beras untuk Provinsi Jawa Timur sebanyak 593.000 ton, telah terealiasasi serapan gabah mencapai 203.392 ton dan pengadaan beras mencapai 294.112 ton.
Sehingga pencapaian target 361.904 ton setara beras (61,80 persen).
Dia menegaskan bahwa Bulog akan terus menggencarkan serapan gabah beras petani, dengan harapan di puncak panen bulan April-Mei tahun ini harga gabah di tingkat petani terjaga sesuai harga pembelian pemerintah minimal sebesar Rp 6.500/ kg.
"Tingginya angka penyerapan Bulog Jawa Timur yang rata - rata mencapai 10.000 ton per hari, menyebabkan stok yang tersimpan di gudang saat ini sebanyak 752 ribu ton sehingga beberapa gudang di Provinsi Jatim telah penuh," katanya.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman beberapa waktu lalu menjelaskan anomal, harga beras justru naik pada saat stoknya sedang melimpah.
Amran mengatakan pihaknya bersama dengan Satuan Tugas (Satgas) Pangan akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait dugaan adanya pihak yang bermain di tingkat distribusi, atau disebut dengan istilah middle man.
Menurutnya middle man ini, dinilai sebagai pihak yang membuat rantai pasok beras semakin panjang, dan pada akhirnya membuat harga beras malah menjadi mahal.
“Ini tidak benar. Artinya apa? Ada middle man yang mempermainkan. Inilah terkadang kita sebut mafia. Jangan mempermainkan ini. Kita setengah mati berproduksi (beras), setengah mati membantu petani," pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa