RADAR SURABAYA BISNIS – Dalam beberapa tahun terakhir, banyak ritel modern yang menutup usahanya.
Tak hanya terjadi di Jakarta atau Bogor, di Surabaya juga ada beberapa ritel modern yang memilih mengakhiri usaha mereka.
Setidaknya, Radar Surabaya Bisnis sudah mencatat empat ritel modern menutup usahanya di Kota Surabaya.
Padahal sebelum-sebelumnya, keempat ritel modern itu dikenal sangat laris sekaligus menjadi jujugan masyarakat Surabaya dan sekitarnya untuk berbelanja.
Ritel modern di Surabaya yang tutup pertama kali adalah Ramayana Department Store.
Ritel modern yang dikenal sebagai pusat busana, sepatu dan tas terkenal itu menutup dua gerainya, yaitu di THR Mall dan Jembatan Merah Plaza (JPM).
Lalu, kedua adalah Matahari Department Store yang menutup gerai mereka di City Of Tomorrow alias Cito.
Ketiga adalah Trans Mart. Mereka menutup salah satu gerainya di Surabaya yang ada di Central Point Mall, di Kawasan Ngagel setelah beroperasi sejak tahun 2007.
Keempat adalah Hypermart. Ritel modern yang menyediakan beragam kebutuhan rumah tangga itu menutup gerainya yang ada di Pakuwon Mall Surabaya.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menjelaskan penyebab semakin banyaknya ritel modern yang tutup belakangan ini.
Menurutnya, fenomena ini disebabkan oleh perubahan gaya belanja masyarakat serta kurangnya inovasi dari pihak ritel.
Dalam diskusinya bersama Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Budi mengungkap bahwa banyak ritel modern tidak mampu beradaptasi dengan tren baru.
“Ada yang bertanya, kenapa banyak ritel modern tutup. Bahkan ada beberapa yang tutup. Nah, itu kalau kami diskusi dengan APPBI, itu ternyata kalau retail modern itu hanya jualan ya. Tidak ada experience di situ, tidak ada journey di situ. Ya dia pasti akan kalah dengan UMKM,” kata Budi saat ditemui di kantor Kementerian Perdagangan, Rabu (4/6).
Budi menyoroti, perubahan perilaku konsumen sebagai faktor utama. Dulu orang belanja untuk kebutuhan seminggu, dua minggu, bahkan sebulan.
Sekarang, orang belanja untuk kebutuhan satu atau dua hari saja. Jadi, mereka memilih belanja di tempat yang paling dekat.
“Karena sekarang itu pola belanja atau lifestyle atau gaya belanja Ibu-ibu atau kita semuanya itu sudah berubah. Dulu kalau kita belanja kadang untuk butuh uang seminggu Dua minggu kadang sebulan. Sekarang itu belanjanya kadang untuk kebutuhan sehari dua hari. Akhirnya apa? Akhirnya belanja yang terdekat saja ritel-ritel yang terdekat saja,” jelasnya.
Lebih lanjut Budi juga menilai pusat perbelanjaan seperti mal dan department store yang tidak menawarkan nilai lebih seperti tempat makan, nongkrong, atau berkumpul, akan sulit menarik pengunjung.
“Kemudian juga kalau mal department store itu hanya tempat belanja tidak ada tempat misalnya untuk makan untuk nongkrong, untuk ngumpul, ya akan sepi pengunjung,” ujarnya.
Maka dengan perubahan gaya hidup konsumen, Budi menegaskan pentingnya inovasi dalam strategi penjualan untuk bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat.
“Nah, itu mungkin itu jadi gambaran kita bahwa kita juga harus bisa mengikuti trend yang ada, termasuk bagaimana nantinya berjualan ya terutama untuk UMKM,” pungkasnya.
Sebelumnya, PT Matahari Department Store (Matahari) dikabarkan akan kembali menutup gerai.
Hal ini seiring gerai yang tutup mungkin tidak mencatat kinerja menguntungkan.
Demikian disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin.
"Bisnis tidak menguntungkan, perusahaan akan tutup gerai setelah melakukan evaluasi. Fokus kepada gerai yang menguntungkan, dan bisa buka lagi di tempat lain,” ujar Solihin, Jumat (9/5).
Selain Matahari, Solihin mengatakan, ritel lainnya juga sudah ada yang tutup gerai yang tidak menguntungkan seperti yang dilakukan Lulu Hypermarket dan GS Supermarket.
Ia mengatakan, dalam jaringan ritel ditemui gerai-gerai yang kurang menghasilkan sehingga lebih baik ditutup.
"Bulan kemarin ada Lulu yang tutup. Lalu GS Supermarket tutup. Apa penyebabnya? Dalam suatu bisnis ada yang tidak menguntungkan di suatu jaringan sehingga tidak ingin menganggu core business sehingga tutup gerai dan fokus kepada gerai yang menguntungkan. Demikian juga Alfamart ada puluhan ribu gerai, 1-2 tidak menguntungkan akhirnya tutup,” papar dia. (uta/opi)
Editor : Nofilawati Anisa