Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Indeks Kepercayaan Industri Naik ke Level Ekspansif, Sektor Ini Penopangnya

Nofilawati Anisa • Kamis, 29 Mei 2025 | 01:33 WIB
ILUSTRASI: Aktivitas di salah satu industri di bawah bendera BUMN yang bergerak di sektor manufaktur.
ILUSTRASI: Aktivitas di salah satu industri di bawah bendera BUMN yang bergerak di sektor manufaktur.

RADAR SURABAYA BISNIS - Indeks Kepercayaan Industri (IKI) manufaktur menunjukkan kinerja positif pada Mei 2025 dengan kembali bertahan pada fase ekspansi yang mencapai level 52,11.

Posisi ini meningkat 0,21 poin dibandingkan pada April 2025.

Namun bila dibandingkan bulan yang sama tahun lalu (Mei 2024), kondisi ini melambat 0,39 poin.

“Kembalinya IKI bulan Mei 2025 pada laju ekspansi telah ditopang oleh 21 subsektor yang tercatat tumbuh positif dan menyumbang kontribusi sebesar 95,7 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada triwulan I/2025,” ujar Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief dalam keterangannya, Rabu (28/5/2025).

Ia menjelaskan, peningkatan IKI bulan Mei dipengaruhi oleh ekspansi pada seluruh variabel pembentuknya. Yaitu pesanan, produksi, dan persediaan.

Variabel pesanan mengalami ekspansi dengan peningkatan 2,13 poin dibandingkan bulan April 2025.

Sementara variabel produksi dan persediaan sedikit menurun menjadi 52,43 poin dan 52,48 poin.

Meningkatnya variabel permintaan telah menjadi angin segar setelah sebelumnya variabel pesanan berada dalam zona kontraksi.

“Kembalinya variabel pesanan ke zona ekspansi telah menjadi penopang kinerja industri di sisi permintaan, baik domestik maupun global, pada bulan Mei 2025 ini,” ujar Febri.

Adapun subsektor yang memiliki nilai IKI tertinggi, yaitu industri alat angkutan lainnya (KBLI 30) dan industri pengolahan tembakau (KBLI 12).

Sementara itu, dua subsektor yang mengalami kontraksi adalah industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki (KBLI 15) serta industri peralatan listrik (KBLI 27).

Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki, Rizky Aditya Wijaya menjelaskan, kontraksi yang dialami oleh industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki disebabkan adanya kenaikan harga yang terjadi sejak Maret 2025.

Hal ini menyebabkan konsumen domestik menahan konsumsi barang tahan lama seperti alas kaki.

“Selain itu, penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) di AS menyebabkan pesanan alas kaki dari Indonesia menurun, sedangkan 43 persen hasil produksi alas kaki Indonesia diekspor,” ujarnya.

Di sisi lain, dampak dari negosiasi tarif resiprokal yang diterapkan oleh Amerika Serikat telah menyebabkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri.

Sehingga banyak perusahaan yang mengambil sikap wait and see serta pembatalan investasi hingga iklim usaha lebih stabil.

“Akan tetapi, meskipun kegiatan produksi berkurang, Rizky menilai masih terdapat optimisme pada sektor industri alas kaki, karena sejak bulan Januari sampai Mei 2025 telah terdapat 12 investasi Penanaman Modal Asing (PMA) baru dengan skala besar masuk ke Indonesia,” jelasnya.

Adapun izin investasi ini telah terbit dengan total nilai investasi mencapai Rp 8 triliun dengan total kapasitas produksi 64,6 juta pasang alas kaki serta 214,6 juta pasang komponen alas kaki.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menambahkan, sektor industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki sebagian besar berasal dari unit usaha skala IKM dan memiliki kertergantungan terhadap kebijakan yang pro industri.

“Kebijakan-kebijakan seperti gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia dan keberpihakan pemerintah untuk belanja produk lokal, dapat lebih digaungkan dan diwujudkan dalam bentuk membeli produk lokal tersebut,” katanya.

Sepanjang tahun 2025, kinerja industri pengolahan lainnya atau industri aneka (KBLI 32) terus mengalami ekspansi.

Menurut Dirjen IKMA, industri aneka merupakan industri yang menghasilkan produk akhir (consumer goods), yaitu sangat rentan dengan kebijakan tidak tepat ataupun daya beli.

Oleh karena itu, kebijakan protektif AS terhadap produk impor Indonesia telah berdampak menciptakan menciptakan iklim usaha yang tidak stabil dan penuh ketidakpastian sebagaimana industri alat musik, bulu mata palsu, dan rambut palsu yang kini mengalami perlambatan. (nis/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#manufaktur #level #Indeks Kepercayaan Industri (IKI) #ekspansif #kemenperin #Penopang #Febri Hendri Antoni Arief #kementerian perindustrian