RADAR SURABAYA BISNIS – Perum Bulog mencatat hingga 10 Mei 2025, mereka sudah menyerap 2.023.063 ton beras dari petani lokal.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut capaian ini sebagai tonggak bersejarah dalam perjalanan penyerapan beras nasional.
“Biasanya serapan sebesar ini tercapai dalam setahun penuh. Tapi kini, dalam waktu kurang dari lima bulan, kita berhasil melampauinya. Ini lompatan eksponensial,” ujar Amran dalam keterangan resminya, Minggu (11/5/2025).
Amran menegaskan, capaian tersebut sepenuhnya berasal dari hasil panen petani lokal, tanpa impor beras medium sejak awal tahun.
“Ini murni produksi dalam negeri. Publik perlu tahu bahwa keberhasilan ini adalah hasil kerja keras petani dan kebijakan yang tepat sasaran,” ujarnya.
Bahkan, serapan pada April 2025 saja mencapai 1,06 juta ton. Sebuah angka bulanan tertinggi sepanjang sejarah Bulog.
Kini, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Bulog telah menembus 3,6 juta ton dan masih terus bertambah.
Keberhasilan ini tak lepas dari strategi penyerapan agresif oleh Bulog, sesuai arahan Presiden. Pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) sebesar Rp 6.500 per kilogram (kg), naik dari HPP 2024 yang hanya Rp 6.000 per kg.
“Harga ini memberi nilai wajar bagi petani, meningkatkan pendapatan, dan memacu produksi,” jelas Amran.
Bulog juga mengerahkan Tim Jemput Gabah yang bekerja sama dengan penyuluh pertanian, Babinsa, serta kelompok tani hingga Gapoktan.
Penggilingan padi dari skala kecil hingga besar pun dilibatkan untuk mempercepat pengadaan.
“Kami pastikan Bulog terus menyerap hingga kapasitas maksimal. Bahkan, kapasitas gudang telah ditambah 1,1 juta ton dan sedang dibangun 25 ribu gudang improvisasi,” tambah Amran
Melimpahnya produksi beras nasional membawa tantangan tersendiri, yaitu gudang nyaris penuh.
Menanggapi hal itu, Presiden Prabowo memerintahkan pembangunan gudang darurat berumur 5–10 tahun, serta persiapan gudang permanen di setiap desa.
“Ini komitmen nyata agar seluruh hasil panen petani terserap,” tegas Amran
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi beras nasional diproyeksikan mencapai 18,76 juta ton hingga Juni 2025.
Sementara itu, laporan USDA memperkirakan produksi Indonesia tahun ini menembus 34,6 juta ton, menjadikan Indonesia produsen beras terbesar di ASEAN.
Dengan serapan lebih dari 2 juta ton, Amran optimistis stok beras nasional bisa menembus 4 juta ton pada akhir Mei 2025.
“Angka ini belum pernah terjadi. Ini kemenangan petani Indonesia,” ujarnya penuh semangat.
Amran menyebut keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, tetapi juga siap menjadi pemain utama dalam ketahanan pangan global. (nis/opi)
Editor : Nofilawati Anisa