RADAR SURABAYA BISNIS - Selama dua bulan terakhir, harga telur ayam anjlok di bawah harga acuan penjualan (HAP).
Hal ini membuat peternak ayam petelur mengeluhkan merugi.
"Kalau HAP sebenarnya Rp 26.500 per kilogram. Tapi sekarang Rp 24.500 hingga 25.000. Kami mengalami kerugian Rp 4.000 – Rp 5.000 per kg," ujar Ketua Asosiasi Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Rofi Yasifun kepada Radar Surabaya, Minggu (27/4/2025).
Rofi mengatakan harga telur di kandang sempat Rp 19.000 per kg, kemudian naik Rp 20.000 per kg.
Menurutnya, penurunan harga telur yang paling lama dan masih berlangsung hingga saat ini adalah Rp 21.000 per kg.
"Turunnya harga telur ini disebabkan oleh stok telur yang banyak, tidak terdistribusi karena libur lebaran yang cukup lama. Jadi hukum pasarnya seperti itu," katanya.
Selain itu, Rofi mengatakan turunnya harga telur ini disebabkan banyak beredarnya telur ayam breeding yang dijual lebih murah.
“Sehingga mau tidak mau peternak harus menjual telur dengan harga yang murah ketimbang kalau lama-lama disimpan busuk,” katanya.
Diketahui telur ayam hatched egg (HE) atau yang lebih dikenal dengan telur ayam breeding ini sebenarnya dilarang dijual di pasar oleh Kementerian Pertanian (Kementan).
Telur HE merupakan telur yang berasal dari ayam perusahaan pembibitan atau breeding.
Larangan menjual telur HE diatur dalam Permentan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.
"Kami berharap Pemerintah segera mengambil tindakan agar harga telur segera kembali normal," jelasnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur, harga rata-rata telur di Jawa Timur adalah Rp 25.679 per kg.
Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Lumajang Rp 28.166 per kg.
Dan harga rata-rata terendah di Kabupaten Bangkalan Rp 24.000 per kg.
Sdangkan harga rata-rata telur ayam di sejumlah pasar besar di Surabaya mencapai Rp 25.000 - Rp 28.000 per kg. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa