Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Rasio Kewirausahaan Indonesia Baru 3,4 Persen dari Total Angkatan Kerja, Kalah Jauh dari Malaysia, Thailand, dan Singapura

Nofilawati Anisa • Minggu, 27 April 2025 | 04:41 WIB
PIDATO: Menteri Perdagangan Budi Santoso (Busan) membuka The 23rd Internasional Franchise, License and Business Concept Expo and Conference (IFRA) dan Internasional Culinary Expo (ICE) 2025.
PIDATO: Menteri Perdagangan Budi Santoso (Busan) membuka The 23rd Internasional Franchise, License and Business Concept Expo and Conference (IFRA) dan Internasional Culinary Expo (ICE) 2025.

RADAR SURABAYA BISNIS - Menteri Perdagangan Budi Santoso (Busan) mengajak pelaku usaha waralaba untuk mengikuti business matching yang digelar Kementerian Perdagangan.

Untuk itu, ia meminta Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) untuk menjajaki business matching Kemendag mulai Mei 2025.

Menurut Busan, business matching dapat memfasilitasi pelaku usaha waralaba untuk mencari peluang pasar yang lebih luas di mancanegara.

Selain itu, keikutsertaan sektor jasa berupa waralaba akan menambah keragaman komoditas yang ditawarkan business matching Kemendag yang selama ini didominasi barang.

Hal tersebut disampaikan Mendag Busan saat menyampaikan opening remarks pada pembukaan “The 23rd Internasional Franchise, License and Business Concept Expo and Conference (IFRA) dan Internasional Culinary Expo (ICE) 2025”, Jumat (25/4) di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten.

“Sampai sekarang, belum ada waralaba yang ikut serta dalam business matching Kemendag. Sektor jasa harus kita galakkan ekspornya. Jadi, kalau bisa, di bawah AFI, mulai Mei 2025 ini agar ada waralaba yang ikut serta,” ungkap Busan.

Business matching Kemendag merupakan bagian dari salah satu program prioritas Kemendag, yaitu Perluasan Pasar Ekspor.

Pelaku usaha dapat menghubungi perwakilan perdagangan Indonesia (perwadag) di 33 negara akreditasi, yaitu Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).

Para pelaku usaha yang ingin ekspor dapat mempresentasikan komoditas-komoditas mereka kepada perwadag melalui sesi pitching.

Kemudian, para perwadag akan mencarikan buyer mancanegara.

Bila gayung bersambut, perwadag akan menggelar sesi business matching yang mempertemukan para pelaku usaha dengan calon pembeli di negara tujuan ekspor.

Busan juga menyampaikan, Kemendag berkomitmen mendukung pengembangan kewirausahaan nasional.

Waralaba bisa menjadi salah satu pendorong utamanya. Waralaba dapat memberikan akses lebih mudah untuk memulai usaha, menawarkan sistem bisnis yang terstandardisasi, serta menghadirkan dukungan berkelanjutan dari pemberi waralaba.

Menurut Busan, jumlah wirausaha di suatu negara memegang kunci yang penting dalam upaya memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Saat ini, rasio kewirausahaan Indonesia adalah 3,4 persen dari total angkatan kerja.

Sebagai perbandingan, rasio kewirausahaan Malaysia dan Thailand sudah lebih dari 4 persen, sementara Singapura 8,7 persen dan Amerika Serikat 12 persen.

“Rasio kewirausahaan kita harus 10 sampai 12 persen. Waralaba ini menjadi salah satu cara untuk meningkatkan rasio kewirausahaan. Kita tidak memulai dari nol,karena melalui waralaba, manajemen dan berbagai hal terkait sudah berjalan dengan baik. Pemerintah bersama AFI berkomitmen untuk terus menumbuhkan waralaba didalam negeri dan untuk tujuan ekspor,” kata Busan.

Pada 2024, sektor waralaba telah menyerap hampir 98 ribu tenaga kerja, mencatatkan omzet hingga Rp 143,25 triliun, dan mengelola lebih dari 48 ribu gerai, baik milik sendiri maupun yang diwaralabakan.

Beberapa waralaba nasional telah ekspansi ke luar negeri.

Misalnya Alfamart, Ayam Gepuk Pak Gembus, Kebab Turki Babarafi, Taman Sari Royal Heritage Spa,dan Roti Ropi.

Sementara itu, Ketua Umum AFI Anang Sukandar menyampaikan, asosiasi waralaba ingin mendorong usaha-usaha waralaba lokal.

Di negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, Malaysia, dan Singapura, sekitar 55 persen usaha waralaba bergerak di sektor makanan dan minuman (mamin).

Karakteristik ini, menurut Anang, menunjukkan peluang yang besar bagi Indonesia untuk memasuki pasar waralaba di tingkat global.

“Kalau kita lihat, Indonesia berpeluang sekali untuk mengembangkan bisnis waralaba. Ada sepuluh jenis masakan Indonesia yang khas, saya kira itu bisa dikembangkan. Saya kira, peluang kita cukup banyak. Saya imbau para pengusaha untuk menekuni bidang-bidang yang memang bisa dikembangkan,” kata Anang.

Salah satu perusahaan waralaba yang ikut serta dalam IFRA x ICE 2025 adalah Kopi Titik Koma.

Co-Founder Kopi Titik Koma, Ditya Wardhana, menyampaikan harapannya kepada pemerintah agar semakin mendukung pengembangan merek waralaba lokal.

Dukungan pemerintah sangat penting untuk semakin memperkenalkan merek waralaba Indonesia sehingga dapat terus bersaing dengan merek waralaba luar.

“Target kami adalah memperkenalkan merek waralaba kita dan mengajak semakin banyak orang untuk menjadi mitra. Pemerintah perlu terus mendukung merek-merek lokal, terutama yang memiliki kandungan dalam negeri yang cukup tinggi. Kami harap perizinan dan perlindungan hukum akan semakin didukung pemerintah,” ujar Ditya. (opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#pelaku usaha #kewirausahaan #budi santoso #peluang #pasar #ekspor #Perluasan #ifra #menteri perdagangan #Business Matching