Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Impor Murah Tahan Lonjakan PMI Manufaktur

Nofilawati Anisa • Jumat, 4 April 2025 | 23:56 WIB
DAYA BELI TURUN: Penjualan produk manufaktur, terutama untuk produk Industri Makanan, Minuman serta Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), mengalami penurunan penjualan pada saat menjelang lebaran.
DAYA BELI TURUN: Penjualan produk manufaktur, terutama untuk produk Industri Makanan, Minuman serta Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), mengalami penurunan penjualan pada saat menjelang lebaran.

RADAR SURABAYA BISNIS - Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia di bulan Maret berada di level ekspansif sebesar 52,4 poin.

Angka ini turun dibandingkan dengan PMI bulan sebelumnya (Februari) sebesar 53,6.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, momentum perayaan keagamaan, terutama Lebaran dan liburan setelahnya, telah menjadi penahan laju penurunan PMI lebih dalam lagi.

Momentum perayaan keagamaan setiap tahunnya selalu menjadi titik lonjakan permintaan bagi produk-produk manufaktur dan diikuti dengan kenaikan PMI.

”Namun kali ini lonjakan tersebut tidak terjadi. Momentum perayaan keagamaan kali ini hanya mampu menjadi penopang PMI agar tidak turun lebih dalam lagi,” ungkap Febri, Jumat (4/4/2025).

Berdasarkan laporan perusahaan industri pada Kemenperin, diketahui bahwa penjualan produk manufaktur, terutama untuk produk Industri Makanan, Minuman serta Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), mengalami penurunan penjualan pada saat menjelang lebaran.

Penurunan penjualan di antaranya disebabkan pelemahan daya beli masyarakat.

“Perlambatan ini juga terlihat dari laporan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan Maret 2025 yang berada di angka 52,98 atau turun tipis 0,17 poin dibandingkan Februari 2025. Tetapi para pelaku industri masih menyampaikan optimisme yang tinggi dalam menjalankan usaha di Indonesia,” paparnya.

Berdasarkan data yang dirilis oleh S&P Global, PMI manufaktur Indonesia pada Maret mampu melampaui RRT (51,2), Vietnam (50,5), Thailand (49,9), Taiwan (49,8) Amerika Serikat (49,8) Myanmar (49,8), Belanda (49,6), Korea Selatan (49,1), Prancis (48,9), Jerman (48,3), Jepang (48,3), dan Inggris (44,6).

Hampir semua negara ASEAN mengalami penurunan PMI pada bulan Maret ini.

Bahkan beberapa negara PMI-nya masih tetap kontraksi.

Sebagian negara tersebut tidak memiliki perayaan hari besar keagamaan pada bulan ini untuk menjadi pendorong lonjakan ataupun menahan penurunan PMI.

“Bayangkan jika tidak ada perayaan hari besar keagamaan dan liburan pada bulan Maret ini maka PMI Indonesia bisa turun lebih dalam lagi. PMI Indonesia melonjak lebih tinggi dibanding PMI bulan lalu sebesar 53,6 jika mampu mengoptimalkan demand perayaan keagamaan dan juga mengoptimalkan pengendalian produk impor murah di pasar domestik,” ujar Febri.

Ia mengaakan, manufaktur Indonesia tetap menjadi magnet bagi para investor untuk menanamkan modalnya.

Bahkan sejumlah industri yang berinvestasi tersebut akan segera menyerap tenaga kerja sebanyak 24.568 orang.

“Ini berdasarkan laporan dari SIINas, bahwa selama bulan Januari-Februari 2025, ada sekitar 198 perusahaan industri yang melaporkan mereka sedang membangun, dan mereka sedang dalam proses membangun fasilitas produksi dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 24 ribu lebih” ungkapnya.

Febri mengakui, meskipun terdapat penutupan pabrik dan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK), tetapi jumlah pabrik yang dibuka jauh lebih banyak.

“Kami berempati terhadap perusahaan industri yang tutup serta tenaga kerja yang terkena PHK, namun demikian, industri baru yang sedang membangun fasilitas produksi dan menyerap tenaga kerja baru, jumlahnya tetap jauh lebih besar dari industri yang tutup dan juga menyerap tenaga kerja jauh lebih besar dari jumlah tenaga kerja yang terkena PHK,” ujarnya. (nis/opi)

PMI Indonesia Masih Ekspansif

*PMI Manufaktur di bulan Maret 52,4 poin
*Angka ini turun dibandingkan dengan PMI Februari (53,6)
*Lebaran dan liburan topang PMI tak turun lagi
*Ada kecenderungan daya beli turun

*Sektor yang alami penurunan:
1. Industri makanan dan minuman (mamin)
2. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT)

*PMI negara lain di bulan Maret:
1. RRT 51,2
2. Vietnam 50,5
3. Thailand 49,9
4. Taiwan 49,8
5. Amerika Serikat 49,8
6. Myanmar 49,8
7. Belanda 49,6
8. Korea Selatan 49,1
9. Prancis 48,9
10. Jerman 48,3
11. Jepang 48,3
12. Inggris 44,6

*Manufaktur jadi andalan ekonomi:
1. Jadi magnet investor
2. Mampu serap 19 juta pekerja
3. 198 perusahaan proses bangun pabrik
4. 80 persen produknya untuk pasar domestik

Sumber: Kemenperin

 

Editor : Nofilawati Anisa
#Purchasing Managers Index #PMI manufaktur Indonesia #Febri Hendri Antoni Arief #produk lokal #murah #impor