RADAR SURABAYA BISNIS - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa efisiensi anggaran tidak boleh berdampak kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Terutama bagi mereka yang merupakan penerima manfaat bantuan sosial.
Maka dari itu, Khofifah yang hari ini dilantik jadi gubernur Jatim itu ingin agar bantuan sosial (bansos) disalurkan secara utuh meski ada efisiensi.
Untuk itu, Khofifah nantinya dalam rapat koordinasi (rakor) bersama sekretaris daerah (sekda), Adhy Karyono dan kepala-kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) akan mendengarkan terlebih dahulu pos anggaran yang ada.
Karena APBD 2025 yang disahkan tahun lalu, masih menjadi kewenangan Adhy Karyono yang kala itu menjabat Pj Gubernur Jatim.
"Kami akan mendapatkan detail penjelasan dari Sekda. Untuk bisa melihat bahwa efisiensi anggaran tidak boleh mengganggu kinerja Pemprov. Terutama bansos tidak boleh dipotong," tegasnya, Kamis (20/2/2025).
Selain bansos, hal yang tidak boleh dikurangi dalam efisiensi anggaran ialah pelayanan publik.
Menurut Khofifah, pelayanan publik harus diberikan secara utuh dan maksimal.
"Layanan-layanan publik tidak boleh dikurangi," tegasnya.
Rakor terkait efisiensi anggaran ini akan menjadi pijakan Khofifah Indar Parawansa - Emil Elestianto Dardak dalam menjalankan roda pemerintahan di Jawa Timur selama 100 hari ke depan.
Terlebih, ada tantangan bahwa dalam waktu dekat sudah masuk bulan Ramadan dan Idulfitri.
Khofifah mengaku bersama wakilnya, Emil Elestianti Dardak, telah menyiapkan program untuk melanjutkan kepemimpinan di Jawa Timur untuk lima tahun ke depan, 2025 - 2030.
Khofifah dan Emil memastikan siap melanjutkan Program Nawa Bhakti Satya.
Diketahui, Nawa Bhakti Satya adalah sebuah gagasan yang dijalankan selama periode lima tahun kepemimpinan sebelumnya, 2019 - 2024.
Dalam Nawa Bhakti Satya II nanti, salah satu yang menjadi fokus ialah soal ketahanan pangan.
Apalagi, program ini juga menjadi prioritas nasional, dalam hal ini atensi Presiden Prabowo Subianto.
"Saya rasa ada program-program prioritas ya. Misalnya adalah ketahanan pangan. Nah ketahanan pangan, saya ingin sampaikan bahwa kalau Jawa Timur sudah pada upaya untuk membangun kedaulatan pangan. Karena memang kita sudah lumbung pangan. Nah yang sudah lumbung pangan ini harus punya target secara lebih signifikan," terangnya.
Target yang dimaksud seperti peningkatan tren produksi padi.
Tak hanya itu, ia juga menargetkan di sektor ternak agar ada peningkatan.
Seperti daging sapi, daging ayam hingga telur ayam ras.
"Maka harus menjadi bagian penting untuk bisa melakukan koordinasi secara lebih komprehensif. Kira-kira target maksimal yang bisa kita lakukan kenaikan untuk sektor pangan itu berapa persen," katanya.
Fokus lainnya, Khofifah berkomitmen menurunkan kemiskinan di Jawa Timur.
Tercatat, bahwa penurunan kemiskinan ekstrem pada tahun 2020 mencapai 4,4 persen dan pada tahun 2024 per Maret kemiskinan di Jatim berhasil turun sebesar 0,66 persen.
"Semua program harus bisa memberikan dampak pada kemiskinan ekstrem seiring dengan desa mandiri di Jawa Timur yang tertinggi di Indonesia," pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa