RADAR SURABAYA BISNIS – Angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Di tahun 2023, angka stunting secara nasional masih di kisaran 21,5 persen.
Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menekan angka stunting, mengingat kualitas generasi saat ini akan menentukan masa depan Indonesia ke depan.
Pemerintah pun terus menjalin kerja sama yang intens dengan sejumlah pihak, termasuk dengan swasta.
Sebagai perusahaan makanan dan minuman, PT Nestle Indonesia mempunyai komitmen yang tinggi terhadap perkembangan kesehatan masyarakat.
Terutama kesehatan masyarakat yang ada sekitar pabrik tempat PT Nestle Indonesia beroperasi.
Salah satunya di pabrik PT Nestle Indonesia di Kejayan, Kabupaten Pasuruan yang menjadi home based pengolahan susu.
Head of Human Resources PT Nestle Indonesia Heru Tjahjono mengatakan salah satu komitmen kuat perusahaan di bidang kesehatan adalah penurunan angka stunting.
Di Jawa Timur, PT Nestle Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan untuk menekan angka stunting.
“Kita sudah bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Pasuruan cukup lama, angtara tiga hingga empat tahun,” kata Heru, Selasa (11/2/2025).
Komitmen yang kuat terhadap penurunan stunting, lanjut Heru, telah diganjar sejumlah penghargaan.
“Tahun lalu, penghargaan yang berkaitan dengan kontribusi kita terhadap penurunan stunting diberikan langsung oleh Bupati Pasuruan,” lanjutnya.
Lebih jauh ia menjelaskan, peran nyata Nestle dalam memperbaiki kesehatan masyarakat diberikan dalam berbagai bentuk.
Mulai dari edukasi kesehatan hingga pembagian makanan gratis secara rutin di wilayah desa Tanggulangin, Kabupaten Pasuruan, mengingat pabrik Kejayan khusus memproduksi susu.
“Program ini bekerja sama dengan posyandu setempat dan puskesmas terdekat dengan wilayah pabrik Kejayan,” ungkap Heru.
Nestle bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga memiliki program Dahsat (Dapur Sehat Atasi Stunting).
Program Dahsat di tahun 2022 berhasil mengurangi 23 persen angka stunting di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Berdasarkan catatan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim, prevalensi stunting di Jatim mengalami penurunan hingga 1,5 persen.
Dimana tahun 2022, angka prevalensi stunting Jatim sebesar 19,2 persen, dan tahun 2023 turun menjadi 17,7 persen.
Tercatat stunting di Jatim lebih rendah dari nasional. Angka nasional 21,5 persen sementara di Jatim 17,7 persen di tahun 2023. Dan akhir tahun 2024, ditarget 14 persen.
Salah satu kesuksesan Pemprov Jatim menurunkan angka stunting adalah kerja sama yang harmonis dengan sejumlah pihak, termasuk dengan perusahaan swasta. (nis/opi)
Editor : Nofilawati Anisa