Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

IKI Bulan Januari 2025 Tunjukkan Level Ekspansif, Ini Penopangnya

Nofilawati Anisa • Minggu, 2 Februari 2025 | 16:39 WIB

 

PABRIK POPOK: Industri manufaktur akan menjadi kunci bagi Indonesia untuk naik kelas menjadi negara maju.
PABRIK POPOK: Industri manufaktur akan menjadi kunci bagi Indonesia untuk naik kelas menjadi negara maju.

RADAR SURABAYA BISNIS – Industri manufaktur tanah air terus menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan.

Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia bulan Desember 2024 menunjukkan bahwa industri manufaktur telah berhasil rebound pada level ekspansif yaitu 51,2.

Setelah sebelumnya terkontraksi selama lima bulan berturut-turut.

Ekspansi PMI manufaktur didukung oleh peningkatan pesanan baru, baik domestik maupun ekspor.

Serta peningkatan aktivitas pembelian bahan baku oleh perusahaan yang merupakan prospek positif sektor manufaktur.

Demikian pula dengan Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia pada triwulan IV/2024 yang menunjukkan ekspansi sebesar 51,58 persen.

Angka ini lebih tinggi dari nilai kuartal III/2024, yaitu 51,54 persen.

Mayoritas komponen pembentuknya yaitu Volume Persediaan Barang Jadi, Volume Total Pesanan, Volume Produksi, dan Penerimaan Barang Pesanan Input mengalami ekspansi.

Tidak berbeda dengan kondisi tersebut, pada bulan Januari 2025, Indeks Kepercayaan Industri juga menunjukkan ekspansi yang semakin menguat.

“Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan Januari 2025 berada di posisi ekspansi dengan mencapai 53,10. IKI Januari 2025 meningkat 0,17 poin dibandingkan dengan bulan Desember 2024, dan meningkat 0,75 poin dibandingkan dengan Januari tahun lalu,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif di Jakarta, belum lama ini.

Febri menjelaskan, meningkatnya IKI Januari 2025 ini ditopang oleh ekspansi 20 subsektor.

20 sektor itu memberikan kontribusi terhadap PDB industri pengolahan non-migas triwulan III/2024 sebesar 95,5 persen.

“Selain itu, peningkatan IKI bulan Januari ini juga dipengaruhi oleh berekspansinya seluruh variabel pembentuk IKI, yaitu pesanan baru, produksi dan persediaan,” sambungnya.

Febri menyebut variabel pesanan baru mengalami ekspansi dengan peningkatan sebesar 2,03 poin dibanding bulan sebelumnya menjadi 52,74.

Hal ini selaras dengan kondisi pada bulan Desember 2024 ketika perusahaan menerima pesanan baru dan sedang bersiap menghadapi peningkatan permintaan di tahun 2025.

“Di sisi lain, variabel produksi tetap mengalami ekspansi sebesar 53,39, meskipun turun 2,14 poin dibandingkan bulan sebelumnya,” ujarnya.

Lebih jauh Febri menjelaskan, pada Januari 2025, industri sedikit menurunkan produksi dibandingkan produksi Desember 2024.

Ini karena stok barang dari peningkatan produksi di bulan sebelumnya masih banyak, sebagai antisipasi rencana kenaikan PPN 12 persen di tahun lalu.

Demikian juga dengan persediaan yang tetap ekspansi sebesar 53,58, meski turun 1,00 poin dibandingkan Desember 2024.

“Hal ini disebabkan produsen masih berhati-hati untuk memproduksi, mengingat persediaan yang belum terserap optimal ke pasar,” katanya.

Jika dilihat dari sisi daya beli masyarakat, Febri melanjutkan, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan Desember 2024 menunjukkan peningkatan 1,8 poin dibandingkan bulan November.

Naiknya keyakinan konsumen pada Desember 2024 tersebut bisa dilihat pada peningkatan indeks penghasilan saat ini, indeks ketersediaan lapangan kerja, dan indeks pembelian barang tahan lama (durable goods), namun tidak pada seluruh golongan.

Indeks tertinggi pada komponen penghasilan saat ini tercatat pada responden dengan pengeluaran lebih besar dari Rp 5 juta dan kelompok usia 20-30 tahun.

Sedangkan untuk komponen ketersediaan lapangan kerja terindikasi meningkat pada seluruh tingkat pendidikan, kecuali pascasarjana.

Sedangkan komponen pengeluaran terindikasi tertinggi pada kelompok pengeluaran Rp 4,1 juta-Rp 5 juta dan kelompok usia 31-40 tahun.

Dengan demikian, daya beli masyarakat dapat dikatakan stabil pada level golongan menengah atas, namun tetap berhati-hati dalam melakukan pengeluaran.

Sedangkan di golongan bawah, daya beli masyarakat dapat dikatakan mengalami penurunan, yang tentu saja berpengaruh pada penyerapan pasar produk manufaktur.

Hal tersebut tecermin pada tiga subsektor dengan nilai IKI tertinggi (ekspansi).

Yaitu subsektor Industri Alat Angkutan Lainnya, Industri Peralatan Listrik, dan Industri Mesin dan Perlengkapan YTDL yang mayoritas konsumennya merupakan perusahaan, bukan rumah tangga perseorangan.

Sedangkan tiga subsektor yang mengalami kontraksi yaitu Industri Pengolahan Lainnya, Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik, serta Industri Minuman merupakan subsektor yang dominan konsumennya merupakan rumah tangga atau perseorangan. (nis/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#manufaktur #Januari 2025 #Indeks Kepercayaan Industri (IKI) #ekspansif #kementerian perindustrian