Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Akal-akalan Apple, Janji Investasi di Indonesia Rp 16 Triliun, Faktanya Jauh Lebi Kecil

Nofilawati Anisa • Kamis, 23 Januari 2025 | 15:46 WIB
ILUSTRASI: Produk Apple iPhone 16 yang belum bisa dijual secara resmi di Indonesia.
ILUSTRASI: Produk Apple iPhone 16 yang belum bisa dijual secara resmi di Indonesia.

RADAR SURABAYA BISNIS - Kabar mengejutkan datang dari Apple.

Perusahaa teknologi asal Amerika Serikat itu berencana membangun pabrik di Batam untuk produksi AirTag.

Air tag adalah salah satu aksesoris iPhone dengan nilai investasi sebesar USD 1 miliar atau sekitarRp 16 triliun (asumsi kurs Rp 16.000 per USD). 

Pabrik tersebut diperkirakan bisa memasok sekitar 60 persen kebutuhan AirTag global dan berproduksi mulai tahun 2026.

Fasilitas produksi ini diperkirakan akan menyerap tenaga kerja sekitar 2.000 orang.

Namun fakta di lapangan tidak seperti itu. Seperti yang diungkap Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni, investasi Apple ternyata bukan sebesar USD 1 miliar.

Berdasarkan assessment teknokratis Kemenperin, nilai riil investasi pabrik AirTag Apple di Batam hanya USD 200 juta atau sekitar Rp 3,2 triliun.

"Nilai ini tentu jauh lebih kecil dibandingkan dengan nilai investasi USD 1 miliar dalam proposal yang disampaikan Apple kepada kami,” kata Febri dalam ketwranfann resminya yang ditulis, Kamis (23/1/2025).

Febri menjelaskan, berdasarkan perhitungan teknokratis Kemenperin, komponen proyeksi nilai ekspor dan biaya pembelian bahan baku tidak dapat dimasukkan sebagai capex (capital expenditure) investasi.

Nilai investasi diukur hanya dari capex, yang terdiri dari pembelian lahan, bangunan, dan mesin/teknologi.  

Dengan masuknya proyeksi nilai ekspor dan pembelian bahan baku dalam investasi oleh pihak Apple, seakan-akan melambungkan nilai investasi lebih tinggi sampai USD 1 miliar, padahal riil nya hanya USD 200 juta.

“Jika nilai investasi Apple sebesar USD 1 miliar itu benar-benar untuk capex, seperti pembelian tanah, bangunan, dan mesin/teknologi, tentu lebih baik lagi. Bayangkan jumlah tenaga kerja yang bisa terserap dengan angka investasi USD 1 miliar, tentu akan sangat besar sekali,” jelasnya.

Ia memaparkan, dalam negosiasi pada tanggal 7 Januari 2025 tersebut, pihak Apple menanyakan apakah proyeksi nilai ekspor dan pembelian bahan baku masuk dalam capex. 

Tim negosiasi Kemenperin dengan tegas menyatakan bahwa dua variabel tersebut bukan merupakan bagian dari capex. 

"Pengukuran capex menggunakan tiga variabel, yakni pembelian lahan, bangunan, dan mesin/teknologi produksi," tegasnya. (nis/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#batam #kemenperin #air tag #investasi #apple