Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Kasus PMK di Jatim Kembali Meningkat, Dinas Peternakan Sebut karena Faktor Cuaca

Mus Purmadani • Sabtu, 4 Januari 2025 | 01:19 WIB
BERI KEKEBALAN: Petugas vaksin PMK saat memberikan vaksin kepada sapi perah di Koperasi SAE Pujon, Malang.
BERI KEKEBALAN: Petugas vaksin PMK saat memberikan vaksin kepada sapi perah di Koperasi SAE Pujon, Malang.

RADAR SURABAYA BISNIS - Kasus wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Jawa Timur kembali meningkat.

Hingga akhir Desember 2024 sudah ada 30 kabupaten/kota di Jatim yang melaporkan kasus PMK ini.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur Indyah Aryani, Jumat (3/1/2025).

Menurutnya tren kenaikan PMK ini terlihat sejak pertengahan Desember 2024.

"Jadi awalnya ada 21 kasus, kemudian naik 64 kasus, dan terakhir laporan sistem informasi kesehatan hewan nasional (iSIKHNAS) yang kami terima ada 800 kasus seluruh Jawa Timur," katanya.

Wanita yang akrab disapa Indy ini menambahkan faktor melonjaknya kasus PMK ini ialah cuaca ekstrem yang terjadi sepanjang Desember 2024.

Menurutnya pancaroba dengan intensitas hujan yang tinggi, berpengaruh pada kondisi kesehatan hewan ternak.

"Meski demikian dari ratusan hewan ternak yang terkena PMK hanya delapan ekor yang meninggal," ungkapnya.

Indy mengatakan untuk mengatasi kasus PMK ini, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait termasuk pemda setempat, untuk penanganan, pengobatan, termasuk vaksinasi rutin tiap enam bulan.

"Sebenarnya kita semua masih terus menangani PMK. PMK ini disebabkan virus, penanganannya butuh vaksinasi berulang setiap enam bulan sekali. Kami terus melakukan edukasi kepada para peternak untuk memisahkan hewan yang bergejala PMK, dengan yang masih sehat. Serta mengawasi kegiatan perniagaan di pasar-pasar hewan seluruh Jatim," jelasnya.

Indy mengatakan populasi ternak di Jawa Timur yang rentan ada sapi, kambing, domba, kerbau dan babi.

"Total yang harus divaksin sebanyak 10,4 juta ekor. Ini merupakan populasi terbesar di Indonesia sehingga memang Jatim harus kerja keras untuk mempertahankan Jatim sebagai gudangnya ternak," jelasnya.

Lebih lanjut Indy mengaku pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian, Pemprov Jatim beserta jajaran seperti BPBD Jatim dan stakeholder terkait untuk menangani kasus ini.

Ia menambahkan kalau saat ini pihaknya juga sudah melakukan dropping obat-obatan untuk sapi yang sakit.

"Sedangkan yang sehat kita beri vaksinasi. Vaksinasi kita lakukan terus menerus sampai Jatim terbebas kasus PMK," pungkasnya. (mus/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) #cuaca ekstrem #dinas peternakan jatim #Indyah Aryani