RADAR SURABAYA BISNIS - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur mengungkapkan nilai ekspor minyak goreng hingga Juli 2024 mencapai USD 200.931.562.
Nilai ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2023 yang sebesar USD 636.590.511.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri (PPLN) Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur Erivina Lucky Kristian kepada Radar Surabaya, Rabu (11/12).
“Akan tetapi jika dibandingkan tahun 2022, eskpor minyak goreng tahun 2023 mengalami penurunan drastis,” jelasnya.
Lucky menambahkan angka ekspor minyak goreng tahun 2022 mencapai USD 851.751.763.
Dari data yang yang diperoleh Radar Surabaya, China menjadi daerah paling banyak untuk ekspor minyak goreng, hingga Juli 2024 angka ekspornya mencapai USD 851.751.763, sedangkan tahun 2023 mencapai USD 95.472.745
“Ekspor minyak goreng ini harus memenuhi kebutuhan dalam negeri dulu, setelah terpenuhi baru boleh ekspor,” katanya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) harga rata-rata minyak goreng curah per kilogram adalah Rp 17.884.
Harga rata-rata tertinggi di Kota Kediri Rp 19.833. Dan harga rata-rata terendah di Kabupaten Bangkalan Rp 15.500.
Kemudian harga rata-rata komoditas minyak goreng kemasan premium per liter Rp 19.228. Harga rata-rata tertinggi di Kota Malang Rp 22.416. Dan harga rata-rata terendah di Kota Pasuruan Rp 16.800.
Selain itu harga rata-rata minyak goreng kemasan sederhana per liter Rp 16.912. Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Bondowoso Rp 19.000. Dan harga rata-rata terendah di Kota Mojokerto Rp 15.000.
Untuk harga rata-rata MinyaKita per liter Rp 16.121. Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Lumajang, Kota Kediri, Kabupaten Sampang Rp 17.000. Dan harga rata-rata terendah di Kabupaten Mojokerto Rp 14.762. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa