RADAR SURABAYA BISNIS – Indonesia dikenal dengan produsen kerajinan tangan. Beragam karya sudah bisa dihasilkan oleh tangan-tangan terampil perajin Indonesia.
Salah satu kerajinan yang sudah menjadi ciri khas Indonesia adalah anyaman.
Banyak jenis kerajinan anyaman, salah satunya tampah. Tampah sudah dikenal baik di Indonesia bahkan hingga Internasional.
Dilansir dari laman Kementerian Koperasi, Tampah berasal dari bahasa Jawa yang artinya tempat menyimpan makanan atau minuman.
Tampah terbuat dari anyaman daun kelapa atau bambu yang sering digunakan sebagai tempat menyajikan makanan dalam acara adat atau perkawinan.
Selain itu, tampah juga dapat di gunakan sebagai aksesoris atau hadiah.
Di luar negeri, tampah bisa menjadi barang dengan harga yang fantastis.
Hal itu dikarenakan tampah menjadi barang yang unik dan memiliki nilai seni yang tinggi sehingga benda ini banyak dijadikan hiasan dinding dan pada foto produk.
Tampah ini viral setelah banyak masyarakat yang tahu, karena dijual di salah satu marketplace di America Serikat yang bernama Pottery Barn yang dijadikan hiasan ini dan dikenal dengan nama Bamboo Wall Art, dibandrol dengan harga USD 299. Atau jika dirupiahkan bernilai kurang lebih Rp.4.500.000.
Sangat menguntungkan bukan jika kita mengekspor tampah ke luar negeri, karena jika dibandingkan dengan kita menjual di dalam negeri pada pasar tradisional hanya dibandrol dengan harga belasan sampai puluhan ribu rupiah saja.
Setelah tahu besarnya profit yang dihasilkan dari ekspor produk tampah ini pasti banyak yang berpikir untuk mengekspor.
Namun, pastinya mengeskpor barang tidak semudah apa yang kita pikirkan, tidak semua orang bisa melakukannya, hanya orang yang paham dan mengerti tentang "added value" atau "nilai tambah" dalam sebuah bisnislah yang dapat memberikan sebuah nilai yang tinggi dalam sebuah produk.
Pasar Tampah di Indonesia
Di Indonesia, tampah menjadi kerajinan yang populer dan banyak dicari oleh wisatawan.
Tampah di jual di pasar tradisional, toko souvenir, maupun pusat kerajinan di berbagai kota.
Selain itu, tampah juga di buat dalam berbagai bentuk dan ukuran sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Tampah juga sering di jadikan sebagai kerajinan yang di ukir dan diberi berbagai motif, seperti bunga, binatang, atau gambar pemandangan.
Hal ini menjadikan tampah semakin menarik dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Negara Tujuan Ekspor Tampah
Indonesia memiliki potensi besar dalam industri kerajinan tangan, termasuk tampah.
Namun, ekspor tampah masih belum maksimal dibandingkan dengan negara-negara lain.
Beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor tampah antara lain:
1. Jepang
Jepang merupakan salah satu negara yang menjadi tujuan ekspor tampah dari Indonesia. Tampah menjadi salah satu kerajinan tradisional yang di minati oleh masyarakat Jepang. Selain itu, tampah juga sering dijadikan sebagai hadiah atau souvenir.
2. Amerika Serikat
Amerika Serikat juga menjadi negara tujuan ekspor tampah dari Indonesia.
Tampah menjadi salah satu kerajinan tangan yang di minati oleh masyarakat Amerika Serikat karena memiliki nilai seni dan tradisi yang tinggi.
3. Uni Emirat Arab
Uni Emirat Arab menjadi salah satu negara tujuan ekspor tampah dari Indonesia.
Tampah menjadi salah satu kerajinan tangan yang di minati oleh masyarakat Uni Emirat Arab karena memiliki nilai seni dan tradisi yang tinggi serta dapat di gunakan sebagai aksesoris atau hadiah.
Tantangan dalam Ekspor Tampah
Walaupun tampah memiliki potensi besar di pasar internasional, namun ada beberapa tantangan dalam ekspor tampah, antara lain:
1. Persaingan dengan Negara Lain
Tampah merupakan kerajinan tangan yang banyak di buat dan di jual di negara-negara lain seperti Filipina, Vietnam, dan Thailand. Hal ini membuat persaingan tampah di pasar internasional semakin ketat.
2. Regulasi Ekspor
Regulasi ekspor tampah masih belum jelas dan terkadang berubah-ubah. Hal ini membuat para pengusaha kesulitan dalam mengurus dokumen dan prosedur ekspor.
3. Kualitas Produk
Kualitas produk tampah yang tidak konsisten menjadi masalah dalam ekspor. Beberapa produk tampah yang dihasilkan masih kurang rapi dan kurang presisi dalam pengerjaannya. (opi)
Editor : Nofilawati Anisa